Carbon Trading 20 Jan 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

EBT Tumbuh, Pembangkit Listrik Batu Bara China Alami Penurunan

Data tersebut merupakan sinyal positif bagi dekarbonisasi sektor energi China karena negara tersebut menetapkan arah agar emisi karbon

Pembangkit listrik tenaga termal berbasis batu bara di China mengalami penurunan pada tahun 2025

Pembangkit listrik tenaga termal berbasis batu bara di China mengalami penurunan pada tahun 2025 karena pertumbuhan pembangkit EBT sukses mengimbangi pertumbuhan permintaan listrik. Foto: Dok. KabarBursa
Pembangkit listrik tenaga termal berbasis batu bara di China mengalami penurunan pada tahun 2025 karena pertumbuhan pembangkit EBT sukses mengimbangi pertumbuhan permintaan listrik. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM - Pembangkit listrik tenaga termal berbasis batu bara di China mengalami penurunan pada tahun 2025. Catatan ini merupakan pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, menurut data pemerintah setempat.

Mengutip Reuters, penurun ini terjadi karena pertumbuhan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sukses mengimbangi pertumbuhan permintaan listrik, bahkan ketika penggunaan listrik secara keseluruhan mencapai rekor tertinggi.

Data tersebut merupakan sinyal positif bagi dekarbonisasi sektor energi China karena negara tersebut menetapkan arah agar emisi karbon mencapai puncaknya pada tahun 2030. Meskipun demikian, produksi batu bara sedikit meningkat ke rekor tertinggi tahun lalu.

Biro Statistik Nasional (NBS) China melaporkan, Listrik termal, yang sebagian besar dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara dengan sebagian kecil dari gas alam, turun 1 persen pada tahun 2025 menjadi 6,29 triliun kilowatt-jam (kWh).

Data menunjukkan bahwa angka tersebut turun lebih tajam pada bulan Desember, sebesar 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peng Chengyao, kepala riset energi dan energi terbarukan APAC di S&P Global Energy menyampaikan pembangunan energi terbarukan yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir secara kumulatif telah memengaruhi bauran pembangkitan dan semakin mengurangi penggunaan batu bara.

"Ditambah dengan pertumbuhan permintaan listrik yang lebih moderat sebesar 5 persen pada tahun 2025," ujar dia dikutip dari Reuters, Selasa, 20 Januari 2026.

Adapun menurut Dewan Kelistrikan China, permintaan listrik telah tumbuh sebesar 6,8 persen dari tahun ke tahun pada tahun 2024.

Sementara itu Badan Energi Nasional (NEA) menyebut pertumbuhan pada tahun 2025 sudah cukup untuk mendorong konsumsi listrik China ke rekor tertinggi, melampaui 10 triliun kWh untuk pertama kalinya.

Angka tersebut lebih besar dibanding gabungan konsumsi Uni Eropa, Rusia, India, dan Jepang pada tahun 2024, didorong oleh pertumbuhan konsumsi yang pesat di bidang internet dan layanan terkait serta manufaktur kendaraan listrik.(*) 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait