KABARBURSA.COM - Sebanyak 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia dalam penjajakan bisnis (business matching) dengan buyer potensial Jepang di Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026.
Kegiatan bertajuk “Business Matching Sessions Indonesia-Japan” ini merupakan bagian dari rangkaian partisipasi ASEAN-Japan Centre pada “The 2nd Indonesia-Japan Environment Week 2026” yang digelar pada 11—12 Mei 2026 di Jakarta.
Para peserta tersebut berasal dari berbagai subsektor strategis, antara lain, produk daur ulang, barang ramah lingkungan, energi dari limbah (waste-to-energy), bahan baku daur ulang, serta jasa pengelolaan lingkungan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Fajarini Puntodewi mengatakan business matching ini merupakan langkah taktis untuk memanfaaatkan momentum kunjungan delegasi Jepang yang membawa keunggulan di ekonomi sirkular.
Menurutnya, forum ini menjadi upaya konkret pemerintah Indonesia dalam mendorong kemitraan bisnis, investasi, dan peningkatan ekspor ke Jepang.
Business matching ini juga menjadi upaya memperluas akses pasar ekspor bagi sektor ekonomi hijau yang permintaannya terus terakselerasi di pasar global.
“Melalui fasilitasi seperti ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok global yang berbasis keberlanjutan. Kami optimis bahwa melalui kolaborasi ini, pelaku usaha Indonesia akan memperoleh peluang lebih besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok produk hijau dunia, yang pada gilirannya memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan”, ujar Puntodewi dalam keterangannya dikutip, Jumat, 15 Mei 2026.
Sementara itu Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Sugih Rahmansyah menyampaikan, business matching dirancang secara spesifik untuk mempertemukan inovasi lokal dengan kebutuhan teknologi tinggi Jepang.
Kesempatan ini diharapkan dapat membuka cakrawala kerja sama yang lebih mendalam di sektor ekonomi sirkular yang memiliki prospek ekonomi jangka panjang.
“Business matching ini menjadi jembatan konkret bagi pelaku usaha Indonesia untuk terhubung dengan mitra Jepang, khususnya dalam sektor ekonomi hijau yang memiliki prospek besar. Kami mendorong agar pertemuan ini dapat menghasilkan kerja sama nyata, baik dalam bentuk investasi, perdagangan, maupun alih teknologi,” ungkap dia.
Sugih melihat kolaborasi dengan Jepang bersifat strategis karena industri di Negeri Sakura memiliki keunggulan dalam teknologi yang maju, efisiensi, dan komitmen yang tinggi terhadap sustainability serta praktik ekonomi sirkular.
Adapun di sisi lain, Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan ekonomi hijau dan transisi energi serta menawarkan potensi yang besar dan peluang pertumbuhan yang tinggi.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap terjadi transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia. Kami harapkan ada tindak lanjut dalam pengelolaan limbah menjadi energi, sistem pengelolaan sampah perkotaan, serta praktik industri berkelanjutan. Hal ini sekaligus akan memperkuat daya saing produk ekspor Indonesia yang bernilai tambah dan ramah lingkungan,” pungkas Sugih. (*)