Ekonomi Hijau 24 Oct 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Yunila Wati

Bebas Utang, ESSA Bisa Genjot Bisnis Energi Hijau

PT ESSA Industries Indonesia Tbk bersiap mempercepat proyek amoniak rendah karbon serta bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

ESSA bebas utang di kuartal III 2025, fokus pada proyek energi bersih, amoniak rendah karbon, dan produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF).

Langkah besar tersebut diklaim sebagai awal baru bagi ESSA untuk tumbuh tanpa beban utang. (Foto: Dok. ESSA)
Langkah besar tersebut diklaim sebagai awal baru bagi ESSA untuk tumbuh tanpa beban utang. (Foto: Dok. ESSA)

KABARBURSA.COM – PT ESSA Industries Indonesia Tbk atau dalam kode saham ESSA mengumumkan telah menuntaskan seluruh pinjamannya lebih cepat dari jadwal pada kuartal ketiga 2025. 

Langkah besar tersebut diklaim sebagai awal baru bagi ESSA untuk tumbuh tanpa beban utang dan mempercepat transformasi menuju bisnis energi bersih, termasuk proyek amoniak rendah karbon dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel atau SAF).

Presiden Direktur & CEO ESSA, Kanishk Laroya, mengatakan bahwa posisi bebas utang memberi keleluasaan bagi perusahaan untuk fokus pada inovasi dan investasi jangka panjang. 

“Mencapai posisi tanpa utang adalah langkah penting bagi ESSA untuk tumbuh dan berinvestasi pada masa depan energi bersih,” ujar Kanishk dalam pernyataan resmi yang diterima KabarBursa.com, Jumat, 24 Oktober 2025.

Ia membeberkan pada kuartal ketiga tahun ini, ESSA mencatat pendapatan USD200 juta, turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD230 juta.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham mencapai USD21 juta, turun 37 persen dari USD34 juta pada sembilan bulan pertama di tahun 2024. 

EBITDA tercatat sebesar USD74 juta atau turun 24 persen dari USD97 juta pada periode yang sama.

Menurut dia, meski harga amoniak turun sekitar 10 persen dan LPG melemah 2 persen dibandingkan tahun lalu, tren harga mulai pulih pada kuartal ketiga dengan kenaikan 7 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Gangguan pasokan gas hulu yang sempat terjadi di semester pertama juga telah pulih sepenuhnya, membuat tingkat utilisasi pabrik amoniak naik menjadi 123 persen pada kuartal ketiga dari 112 persen di kuartal kedua.

Kinerja operasional ESSA dinilai tetap tangguh. Fasilitas amoniak mencapai utilisasi 113 persen selama sembilan bulan pertama 2025, dengan total 9,1 juta jam kerja aman tanpa Lost Time Injury (LTI). Kilang LPG pun mencatatkan 6,3 juta jam kerja aman kumulatif tanpa insiden, menjaga tingkat ketersediaan operasional di 99,7 persen.

ESSA kini berfokus memperkuat transisi menuju energi rendah karbon. Perseroan sedang menyiapkan proyek konversi fasilitas amoniak menjadi amoniak rendah karbon dengan target menangkap dan menyimpan sekitar 1 juta ton CO2 per tahun. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ESSA untuk mendukung target net zero emission Indonesia.

Selain itu, soal ekspansi. Melalui anak usahanya, PT ESSA SAF Makmur (ESM), ESSA juga tengah mengembangkan proyek produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan kapasitas hingga 200.000 metrik ton per tahun. "Proyek tersebut akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau global serta mendukung dekarbonisasi industri penerbangan," ucap dia.

Jika neraca sehat dan tanpa utang, ESSA kini memiliki ruang lebih luas untuk berinvestasi di sektor energi bersih dan proyek berkelanjutan. Komitmen tersebut dianggap menjadi bukti bahwa strategi disiplin operasional dan pengelolaan keuangan yang hati-hati mampu membawa perusahaan ke fase pertumbuhan baru yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menilik data perdagangannya saham ESSA berada di harga Rp605 per lembarnya. Namun, jika melihat data perdagangannya selama satu tahun, ESSA sempat mengalami koreksi dari Rp990 per lembar turun ke level terendah Rp510, namun mengalami rebound kembali. 

Selama satu tahun terakhir, ESSA alami penurunan 33,32 persen atau 345 poin. Perusahaan ini juga sempat membagikan dividennya pada 28 April 2025 lalu dengan nilai Rp10, payout ratio 36,96 persen dan dividen yield sebesar 1,65 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait