Ekonomi Hijau 31 Oct 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Ekonomi Hijau Indonesia Menguat, Pasar Modal Jadi Pendorong Utama

Ketika kerangka hukum dan kebijakan telah mapan serta penegakannya efektif, perusahaan akan mulai mengarahkan modal mereka sesuai visi hijau

PT BNI Sekuritas menegaskan pentingnya peran sektor swasta serta tingginya animo investor dalam mempercepat laju ekonomi hijau Indonesia

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - PT BNI Sekuritas menegaskan pentingnya peran sektor swasta serta tingginya animo investor dalam mempercepat laju ekonomi hijau Indonesia, khususnya melalui pasar modal. 

Direktur Utama BNI Sekuritas, Agung Prabowo, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi bertajuk “Seeing Green: Where Are All of Indonesia’s Green Economy Projects?” pada ajang BNI Investor Daily Summit 2023 pekan lalu.

Agung menuturkan, transisi menuju pertumbuhan hijau bukan perkara mudah—ia menuntut modal yang besar dan kesinambungan kebijakan. “Ketika kerangka hukum dan kebijakan telah mapan serta penegakannya efektif, perusahaan akan mulai mengarahkan modal mereka sesuai visi hijau tersebut. Namun, bila pembiayaan hanya mengandalkan dana internal, laju transformasi akan melambat. Karena itu, pembukaan akses pendanaan lewat pasar modal menjadi keniscayaan,” ujarnya. Seperti dilansir laman bni sekuritas, Jakarta, Jumat 30 Oktober 2025.

Ia menambahkan, geliat investasi berkelanjutan di tingkat global kini menunjukkan tren yang kian menguat. Berdasarkan data Morningstar, total Asset Under Management (AUM) dana berkelanjutan menembus USD3,1 triliun per Juni 2023, naik dari USD2,8 triliun di akhir 2022. Dalam enam bulan pertama 2023 saja, penambahan AUM mencapai USD57 miliar. Lebih menarik lagi, tingkat pengembalian dari sustainable funds melampaui dana konvensional, yakni 6,9 persen per tahun berbanding 3,8 persen.

“Fenomena global ini menunjukkan bahwa investor asing di pasar modal semakin memandang investasi hijau bukan hanya beretika, tetapi juga menguntungkan,” jelas Agung.

Tren serupa turut tercermin di dalam negeri. Sejak 2021, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat emisi saham dan obligasi bertema ekonomi hijau hampir menyentuh Rp38 triliun, dengan permintaan yang luar biasa. 

Obligasi hijau BNI senilai Rp5 triliun, misalnya, diserbu investor hingga mencapai Rp21 triliun, atau lebih dari empat kali lipat dari nilai penerbitan. Sementara itu, IPO Barito Renewables Energy (BREN) bahkan mencatat oversubscription fantastis hingga 135,2 kali.

“Di pasar modal domestik, minat terhadap instrumen hijau tak sekadar tren. Investasi ini juga terbukti memberikan imbal hasil yang kompetitif. Harga Green Bond BNI sempat menembus 103 persen di pasar sekunder, menunjukkan permintaan yang solid. Sementara saham BREN telah membukukan return hingga 4,9 kali lipat sejak IPO,” pungkas Agung.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait