Ekonomi Hijau 27 Sep 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Energi Geotermal: Pilar Strategis Menuju Net Zero Emissions 2034

Peluang pembangunan pembangkit geotermal hingga kapasitas 5,2 gigawatt (GW)

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menekankan urgensi percepatan pengembangan energi panas bumi sebagai komponen krusial dalam transisi energi nasional

Ilustrasi Geotermal. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Geotermal. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menekankan urgensi percepatan pengembangan energi panas bumi sebagai komponen krusial dalam transisi energi nasional. Dalam kunjungan spesifik ke PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, Bambang menyebut energi geotermal bukan sekadar opsi, melainkan instrumen vital untuk menapaki target Net Zero Emissions (NZE) pada 2034.

“Potensinya luar biasa, namun pemanfaatannya belum maksimal,” ujar Bambang.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang telah disahkan, tercantump dalam rentang waktu kurang dari satu dekade.

Ia menyoroti PLTP Kamojang sebagai prototipe pengembangan yang solid—baik dari sisi teknis maupun keberlanjutan operasional. Lokasi ini, yang juga merupakan proyek geotermal pertama di Indonesia, dinilai sebagai acuan untuk pengembangan lebih lanjut di wilayah lain.

Politikus Fraksi Partai Golkar itu kemudian menyerukan kepada seluruh operator geotermal untuk segera mengeksekusi rencana investasinya. Target 5,2 GW bukan sekadar angka, tetapi tolok ukur komitmen Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global.

“Kita harus buktikan bahwa kita serius. Bahwa kita benar-benar berkomitmen menuju NZE 2034,” tegasnya.

Tak hanya bicara kapasitas, Bambang turut menekankan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap proyek. Ia menilai pengembangan geotermal harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, baik dalam bentuk pemberdayaan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, hingga transfer teknologi.

Bambang juga menyoroti keunggulan teknis geotermal dibanding sumber energi baru terbarukan lain seperti surya dan angin. Salah satu kelebihannya terletak pada sifatnya sebagai base load energy—pemasok daya yang konsisten, tidak terganggu waktu atau cuaca.

“Kalau matahari tenggelam, panel surya berhenti. Kalau angin tak berhembus, turbin pun diam. Tapi geotermal? Ia terus berjalan,” jelas Bambang.

Ia menggarisbawahi bahwa penurunan kapasitas pada geotermal tergolong minim—rata-rata hanya 1 hingga 2,5 persen. Angka yang jauh lebih kecil dibanding fluktuasi ekstrem pada PLTS atau PLTB. Karena itu, menurutnya, geotermal adalah tulang punggung paling andal dalam sistem energi nasional yang mengedepankan kontinuitas.

“Kita butuh energi yang tak hanya bersih, tapi juga stabil. Dan geothermal menjawab dua-duanya,” tutupnya lugas.

Dengan dukungan regulasi dan kemauan politik yang kuat, Indonesia dinilai punya semua prasyarat untuk menjadikan energi panas bumi sebagai game changer dalam transformasi energi nasional menuju masa depan yang rendah karbon.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait