Ekonomi Hijau 21 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Era Baru Energi, IEA Catat Permintaan Listrik dan Surya Tumbuh Lebih Cepat

IEA mencatat konsumsi listrik dan energi surya tumbuh lebih cepat dibanding energi global, menandai pergeseran sistem energi dunia.

IEA ungkap listrik dan energi surya tumbuh pesat, melampaui permintaan energi global dan menandai pergeseran menuju energi bersih.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang dikembangkan oleh PLN dan Masdar. Proyek ini menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas awal 145 megawatt (MW), sekaligus simbol dorongan Indonesia dalam transisi menuju energi bersih. Foto: Dok. Kementerian ESDM.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat, yang dikembangkan oleh PLN dan Masdar. Proyek ini menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas awal 145 megawatt (MW), sekaligus simbol dorongan Indonesia dalam transisi menuju energi bersih. Foto: Dok. Kementerian ESDM.

KABARBURSA.COM — Pertumbuhan energi global pada 2025 melambat, tetapi konsumsi listrik justru melesat dan tenaga surya mencetak tonggak baru. Laporan terbaru Badan Energi Internasional atau IEA menunjukkan pergeseran arah sistem energi dunia mulai terlihat semakin jelas.

Secara keseluruhan, permintaan energi global hanya naik sekitar 1,3 persen pada 2025. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata dekade sebelumnya. Perlambatan dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, cuaca yang lebih ringan di sejumlah wilayah, serta efisiensi teknologi yang semakin meningkat.

Namun gambaran berbeda muncul di sektor listrik. Konsumsi listrik global justru tumbuh sekitar 3 persen, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan energi secara keseluruhan.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya elektrifikasi di sektor bangunan dan industri, pertumbuhan kendaraan listrik, serta lonjakan kebutuhan energi dari pusat data.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menegaskan perubahan ini sebagai sinyal penting dalam transisi energi global.

“Konsumsi listrik tumbuh jauh lebih cepat dibanding permintaan energi secara keseluruhan, dan satu sumber energi yaitu surya tumbuh jauh lebih cepat dibanding yang lain,” kata Birol, dikutip dari Electrek, Selasa, 21 April 2026.

Tenaga surya bahkan menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan pasokan energi global untuk pertama kalinya. Sumber energi ini menyumbang lebih dari 25 persen dari total kenaikan pasokan energi pada 2025. Di bawahnya, gas alam menyumbang sekitar 17 persen. Ini mencerminkan perannya yang masih penting dalam pembangkit listrik.

Secara keseluruhan, energi terbarukan dan nuklir memenuhi hampir 60 persen pertumbuhan permintaan energi global. Bahkan, produksi listrik dari sumber bersih tersebut mampu melampaui total kenaikan kebutuhan listrik, menunjukkan bahwa energi bersih mulai menutup kebutuhan tambahan secara penuh.

Di sisi lain, permintaan minyak masih tumbuh, namun melambat signifikan. Kenaikan hanya sekitar 0,7 persen, salah satunya dipengaruhi lonjakan penjualan kendaraan listrik.

Penjualan mobil listrik global meningkat lebih dari 20 persen pada 2025, menembus lebih dari 20 juta unit atau sekitar satu dari empat penjualan mobil baru di dunia. Tren ini mulai menekan permintaan bensin dan solar.

Sementara itu, penggunaan batu bara menunjukkan pola campuran. Di China, pemakaian batu bara menurun seiring pesatnya pertumbuhan energi terbarukan. Namun di Amerika Serikat, kenaikan harga gas mendorong utilitas kembali menggunakan batu bara. Secara keseluruhan, pertumbuhan permintaan batu bara tetap melambat.

Dari sisi emisi, kenaikan emisi karbon global juga melambat menjadi sekitar 0,4 persen pada 2025. China bahkan mencatat penurunan emisi berkat ekspansi energi bersih, sementara India mencatat emisi yang relatif stabil.

Namun di negara maju, musim dingin yang lebih ekstrem justru mendorong peningkatan penggunaan energi fosil, sehingga emisi naik sekitar 0,5 persen.

Di sektor listrik, capaian teknologi bersih semakin terlihat. Produksi listrik tenaga surya meningkat sekitar 600 terawatt jam, menjadi kenaikan terbesar yang pernah terjadi dalam satu tahun untuk teknologi pembangkit listrik.

Teknologi penyimpanan energi juga mencatat pertumbuhan pesat, dengan tambahan kapasitas sekitar 110 gigawatt pada 2025. Di saat yang sama, energi nuklir mulai kembali berkembang dengan lebih dari 12 gigawatt proyek reaktor baru yang mulai dibangun.

IEA mencatat, sejak 2019, teknologi rendah emisi seperti surya, angin, dan pompa panas telah mencapai skala yang mampu secara nyata mengurangi konsumsi energi fosil. Bahkan, pengurangan tersebut setara dengan total kebutuhan energi Amerika Latin dalam setahun.

Perubahan ini menunjukkan arah baru sistem energi global yang semakin bergeser ke elektrifikasi dan energi bersih, meskipun transisinya masih berlangsung tidak merata di berbagai wilayah dunia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait