Ekonomi Hijau 09 Jan 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

ESDM Catat Rapor Positif, Bauran Energi Terbarukan RI Tembus 15,75 Persen di 2025

Penambahan kapasitas EBT mencetak rekor lima tahun terakhir meski bauran energi masih tertahan oleh gas dan batu bara.

ESDM mencatat bauran energi baru terbarukan Indonesia mencapai 15,75 persen pada 2025 dengan rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT.

ESDM mencatat bauran energi baru terbarukan Indonesia mencapai 15,75 persen pada 2025 dengan rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT. Foto: Dok. KabarBursa.
ESDM mencatat bauran energi baru terbarukan Indonesia mencapai 15,75 persen pada 2025 dengan rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM — Tahun 2025 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. Di tengah tarikan kebutuhan energi nasional yang terus tumbuh dan tekanan global yang datang silih berganti, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatatkan hasil yang tidak bisa dianggap remeh.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Bauran Energi Baru Terbarukan atau EBT berhasil menembus angka 15,75 persen. Capaian ini menempatkan 2025 sebagai tahun dengan penambahan kapasitas EBT terbesar dalam lima tahun terakhir.

Capaian itu tidak datang tiba-tiba. Sepanjang 2025, kapasitas pembangkit EBT bertambah hingga 15.630 MW. Angka ini mencerminkan kerja panjang yang berlangsung di berbagai lini, dari perencanaan hingga eksekusi proyek. Di balik persentase yang terlihat di atas kertas, terdapat pembangkit-pembangkit baru yang mulai beroperasi dan menambah pasokan energi bersih ke sistem nasional.

Jika ditarik lebih rinci, tulang punggung penambahan kapasitas tersebut masih bertumpu pada Pembangkit Listrik Tenaga Air yang menyumbang 7.587 MW. Bioenergi menyusul dengan tambahan 3.148 MW, sementara panas bumi berkontribusi 2.744 MW. Di luar tiga sumber utama itu, energi surya terus menunjukkan geliat dengan kapasitas terpasang mencapai 1.494 MW.

Sumber lain seperti gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, tenaga angin 152 MW, pemanfaatan sampah 36 MW, serta sumber lainnya 18 MW melengkapi mosaik bauran energi nasional yang kian beragam.

Namun, di balik besarnya penambahan kapasitas tersebut, persentase bauran EBT tidak sepenuhnya melonjak seiring. Hal ini tidak lepas dari realitas bahwa pembangkit berbasis gas dan batu bara juga mengalami penambahan. Kondisi ini membuat porsi EBT secara persentase bergerak lebih pelan dibanding lonjakan kapasitasnya. Bahlil menyampaikan hal tersebut secara lugas.

“Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan pembangkit dari gas dan batu bara,” kata Bahlil dalam keterangan yang dirilis di laman esdm.go.id, Jumat, 9 Januari 2025.

Situasi tersebut menggambarkan wajah transisi energi yang tidak hitam putih. Di satu sisi, energi terbarukan terus digenjot. Di sisi lain, kebutuhan menjaga keandalan pasokan listrik membuat pembangkit fosil masih belum bisa dilepaskan sepenuhnya. Tahun 2025 pun menjadi tahun yang sarat dinamika, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari tekanan eksternal yang memengaruhi kebijakan dan investasi.

Bahlil mengakui perjalanan sepanjang 2025 tidak berjalan mulus. Tantangan global datang silih berganti, mulai dari gejolak ekonomi hingga ketidakpastian geopolitik yang berimbas pada sektor energi. Meski begitu, ia menegaskan kondisi tersebut justru menjadi ujian untuk menunjukkan arah dan komitmen kebijakan energi nasional.

“Tahun 2025 ini adalah tahun yang penuh cobaan dan dinamika, ada suka duka yang cukup luar biasa. Tapi bagi kami, setiap ada tantangan justru di situlah harus ada kehadiran kita dalam rangka menunjukkan apa yang menjadi target dari Bapak Presiden,” ungkapnya.

Di sektor ketenagalistrikan, hasil yang dicapai bahkan melampaui rencana awal. Bauran EBT khusus untuk listrik tercatat mencapai 16,3 persen. Angka ini berada di atas target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional yang mematok bauran EBT sebesar 15,9 persen.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi menyebut capaian tersebut sebagai sinyal bahwa arah kebijakan yang ditempuh pemerintah mulai menunjukkan hasil. “Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu bauran EBT tercapai 16,3 persen. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9 persen,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi kapasitas dan bauran, subsektor EBT dan konservasi energi juga menunjukkan ketangguhan dari sisi investasi. Sepanjang 2025, realisasi investasi di subsektor ini mencapai USD2,4 miliar.

Angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga di tengah iklim global yang penuh ketidakpastian, sekaligus menunjukkan bahwa proyek-proyek energi bersih masih dipandang memiliki prospek jangka panjang.

Secara lebih luas, sektor ESDM tetap memainkan peran penting sebagai penopang penerimaan negara. Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor ini tercatat mencapai Rp138,37 triliun atau sekitar 108,56 persen dari target yang ditetapkan. Capaian tersebut menjadi indikasi bahwa pengelolaan sumber daya energi tidak hanya berorientasi pada pasokan dan transisi, tetapi juga pada kontribusi fiskal yang berkelanjutan.

Rapor 2025 ini memperlihatkan transisi energi di Indonesia berjalan dengan langkah yang tidak selalu lurus, tetapi konsisten. Di tengah tarik-menarik antara kebutuhan energi, tekanan global, dan target jangka panjang, bauran EBT terus bergerak naik. Angkanya mungkin belum spektakuler bagi sebagian pihak, tetapi di baliknya ada kerja struktural yang perlahan membentuk fondasi sistem energi yang lebih beragam dan berkelanjungan.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait