Ekonomi Hijau 23 Apr 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Uslimin Usle

Green Mining Jadi Strategi Baru, Tambang Kejar Efisiensi dan Skor ESG

Transformasi ini dilakukan melalui sinergi antara perusahaan-perusahaan tambang batu bara dan PT PLN (Persero)

Industri pertambangan nasional mulai mengubah strategi operasionalnya ke arah yang lebih efisien dan rendah emisi melalui penerapan green mining.

Logo Kementerian ESDM (foto: Kementerian ESDM)
Logo Kementerian ESDM (foto: Kementerian ESDM)

KABARBURSA.COM – Industri pertambangan nasional mulai mengubah strategi operasionalnya ke arah yang lebih efisien dan rendah emisi melalui penerapan green mining. Peralihan dari bahan bakar solar ke tenaga listrik pada aktivitas tambang yang dinilai tidak lagi sekadar langkah lingkungan, namun telah menjadi strategi bisnis untuk memangkas biaya operasional dan memperbaiki skor Environmental, Social, and Governance (ESG).

Transformasi ini dilakukan melalui sinergi antara perusahaan-perusahaan tambang batu bara dan PT PLN (Persero). Pemerintah menilai alat elektrifikasi berat, khususnya pada kegiatan pengangkutan atau transportasi material, menjadi titik paling krusial dalam efisiensi energi di sektor pertambangan.

Koordinator Konservasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ari Hendrawanto, mengatakan konsumsi energi terbesar di sektor tambang berada pada aktivitas pengangkutan. 

Oleh karena itu, penggantian alat berat berbasis solar ke listrik disebut tidak mampu menghasilkan penghematan operasional yang signifikan.

“Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, karena konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan hauling,” ujar Ari dalam Focus Group Discussion Powering The Future of Green Mining di Jakarta, dikutip Kamis 23 April 2026.

Menurut Ari, setiap satu unit alat berat yang mengkonversi dari solar ke listrik berpotensi menghemat biaya operasional hingga Rp2 miliar per tahun. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa strategi penambangan hijau tidak hanya relevan dengan keinginan, tetapi juga memberi dampak langsung pada efisiensi biaya perusahaan.

Untuk mendukung percepatan transisi tersebut, PLN telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan nota kesepahaman Integrated Business Solution dengan sejumlah perusahaan tambang besar. Beberapa di antaranya antara lain PT Makmur Sejahtera Wisesa dengan kapasitas 106 MVA, PT Maruwai Coal 71 MVA, PT Sembada Makmur Sejahtera 55 MVA , PT Marga Bara Jaya 35 MVA, PT Trubaindo Coal Mining 30 MVA, dan PT Berau Coal 29 MVA.

Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keabadian industri tambang di tengah tekanan global untuk mempercepat transisi energi.

“Forum ini menjadi momentum untuk merumuskan strategi pengelolaan aset kelistrikan pasca umur tambang,” ujarnya.

Salah satu langkah paling ambisius datang dari PT Borneo Indobara (BIB) yang tengah membangun infrastruktur kelistrikan bersama PLN untuk mengoperasikan 700 unit truk listrik. 

Proyek ini dijalankan sebagai respons terhadap menurunnya harga bahan bakar fosil sekaligus komitmen perusahaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Jika asumsi penghematan Rp2 miliar per unit per tahun diterapkan pada proyek tersebut, maka potensi efisiensi yang dapat dicapai hanya dari satu lokasi penambangan bisa mencapai angka yang sangat besar. 

Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada alat elektrifikasi berat tidak lagi dipandang sebagai biaya tambahan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga profitabilitas.

Dari sisi ekonomi, green mining menawarkan dua manfaat utama bagi industri tambang. Pertama, perusahaan dapat menekan biaya produksi, sehingga daya saing komoditas tambang Indonesia tetap terjaga di pasar global. Kedua, penerapan operasional rendah emisi berpotensi meningkatkan skor ESG perusahaan.

Peningkatan skor ESG kini menjadi semakin penting di tengah kecenderungan lembaga keuangan global yang lebih banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor berbasis bahan bakar fosil. 

Dalam situasi ini, penggunaan listrik hijau dalam proses produksi dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan tambang untuk mempertahankan akses terhadap pendanaan dan kepercayaan investor.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait