KABARBURSA.COM — PT Indika Energy Tbk atau PT Indika Energy Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST dan RUPSLB) pada 20 Mei 2026. Namun, agenda yang dibawa perseroan kali ini bukan sekadar formalitas tahunan.
Di tengah tekanan bisnis batu bara dan upaya diversifikasi besar-besaran, INDY mulai menyiapkan arah bisnis baru yang lebih luas di luar sektor energi fosil.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia yang dilihat Selasa, 12 Mei 2026, salah satu agenda penting RUPSLB adalah penyusunan ulang Pasal 3 Anggaran Dasar perihal maksud, tujuan, dan kegiatan usaha perusahaan untuk menyesuaikan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Langkah ini biasanya menjadi sinyal awal perubahan strategi korporasinketika perusahaan mulai membuka ruang ekspansi bisnis baru atau restrukturisasi portofolio usaha Dalam dokumen pemanggilan RUPS, INDY juga akan meminta persetujuan pemegang saham mengenai perubahan susunan direksi dan komisaris perseroan.
Agenda lain yang turut dibahas mencakup penggunaan laba tahun buku 2025, penunjukan auditor, hingga penetapan remunerasi manajemen. Di balik agenda administratif tersebut, pasar sebenarnya sedang membaca arah transformasi besar yang sedang dijalankan INDY.
Perseroan dalam beberapa tahun terakhir memang agresif mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara. Dalam laporan tahunan 2025, INDY menargetkan kontribusi pendapatan non-batu bara mencapai 50 persen pada 2028. Transformasi itu dilakukan lewat ekspansi ke sektor kendaraan listrik, mineral, energi hijau, logistik, hingga teknologi digital.
Pada 2025, INDY mengalokasikan belanja modal sekitar USD139 juta atau setara Rp2,35 triliun untuk proyek tambang emas dan pengembangan bisnis non-batu bara lainnya. Namun, transisi tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi pelemahan bisnis inti perseroan.
Laporan keuangan 2025 menunjukkan laba bersih INDY turun tajam menjadi sekitar USD6 juta atau sekitar Rp101 miliar. Angka ini merosot lebih dari 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga turun sekitar 16,8 persen menjadi USD2,03 miliar atau sekitar Rp34 triliun akibat melemahnya ekspor batu bara dan penurunan harga jual rata-rata.
Meski demikian, bisnis batu bara masih menjadi tulang punggung utama perusahaan. Kontribusi batu bara terhadap pendapatan INDY masih berada di kisaran 80 persen sepanjang 2025. Sementara bisnis baru seperti kendaraan listrik, mineral, dan energi hijau masih dalam tahap pengembangan awal.
Salah satu proyek yang kini menjadi perhatian pasar adalah tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan. Proyek ini disebut memiliki potensi produksi sekitar 140 ribu ounce emas per tahun dengan estimasi potensi pendapatan mencapai USD420 juta atau sekitar Rp7,09 triliun per tahun ketika beroperasi penuh.
Selain itu, INDY juga mulai memperkuat bisnis kendaraan listrik melalui ALVA dan Calista, termasuk pengembangan pabrik motor listrik berkapasitas 100 ribu unit. Perseroan bahkan telah mulai melakukan uji coba kendaraan listrik di area tambang sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi operasional.
Di sisi lain, kondisi keuangan INDY masih menghadapi tekanan utang yang cukup besar seiring ekspansi bisnis baru. Laporan keuangan perseroan mencatat total liabilitas mencapai sekitar Rp26,3 triliun dengan debt to equity ratio berada di kisaran 1,18 kali.
Karena itu, pasar kini menunggu apakah perubahan KBLI dan restrukturisasi yang akan dibahas dalam RUPS nanti benar-benar menjadi pintu transformasi bisnis baru atau hanya penyesuaian administratif di tengah tekanan transisi energi global. RUPS INDY dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan.(*)