Ekonomi Hijau 28 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Kinerja Lingkungan Jababeka (KIJA) Memburuk, Energi dan Emisi Membengkak

Laporan keberlanjutan KIJA 2024 menunjukkan lonjakan konsumsi energi, air, dan emisi, sementara efisiensi lingkungan belum terlihat di tengah ekspansi kawasan.

Kinerja lingkungan KIJA 2024 memburuk dengan kenaikan energi, air, dan emisi, menandakan ekspansi belum diiringi efisiensi.

Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik tekstil di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 25 November 2025. Foto: Dok. IG @indroneku.
Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik tekstil di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 25 November 2025. Foto: Dok. IG @indroneku.

KABARBURSA.COM – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat peningkatan aktivitas operasional sepanjang 2024. Namun, di balik ekspansi tersebut, laporan keberlanjutan perseroan justru memperlihatkan tren yang berlawanan dengan prinsip efisiensi lingkungan.

Data dalam laporan Sustainability Report 2024 KIJA menunjukkan hampir seluruh indikator utama lingkungan mengalami kenaikan, mulai dari konsumsi energi hingga emisi gas rumah kaca.

Penggunaan listrik tercatat naik 10 persen menjadi 30.838.682 kWh, dari sebelumnya 28.133.926 kWh pada 2023. Kenaikan juga terlihat pada konsumsi bahan bakar minyak yang melonjak 17 persen menjadi 505.931 liter. Sementara itu, penggunaan bahan bakar gas memang turun 4 persen, tetapi tidak cukup mengimbangi lonjakan konsumsi energi secara keseluruhan.

Di sisi lain, tekanan terhadap sumber daya air juga meningkat. Produksi dan distribusi air bersih naik 18 persen menjadi 13.451.200 meter kubik, sementara penggunaan air meningkat 14 persen menjadi 911.435 meter kubik.

Kenaikan konsumsi energi dan air tersebut berbanding lurus dengan peningkatan emisi. Perkiraan emisi gas rumah kaca (GRK) KIJA tercatat naik 3 persen menjadi 81.011 ton CO2e, dari 78.665 ton CO2e pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan operasional kawasan industri belum diiringi dengan efisiensi lingkungan yang memadai. Alih-alih menekan intensitas emisi, peningkatan aktivitas justru memperbesar jejak karbon secara absolut.

Satu-satunya indikator yang mencatat penurunan adalah pengelolaan limbah dan efluen, yang turun 17 persen menjadi 2.809 ton dari sebelumnya 3.397 ton. Namun, penurunan ini tidak serta-merta mencerminkan perbaikan kinerja lingkungan secara utuh.

Dalam catatan laporan, perseroan menyebut data limbah dan efluen pada 2024 baru mencakup entitas anak tertentu dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan seluruh unit usaha. Catatan tersebut membuka ruang pertanyaan mengenai konsistensi metodologi pelaporan, mengingat indikator lain seperti emisi sudah mencakup aktivitas sebagian besar entitas anak.

Selain itu, laporan juga mengungkap adanya penyesuaian data secara keseluruhan akibat perubahan asumsi, satuan, dan faktor konversi. Penyesuaian ini membuat perbandingan antar tahun menjadi tidak sepenuhnya setara secara metodologis.

Dalam konteks kawasan industri, tren ini menjadi krusial. Sebagai pengelola ekosistem industri, KIJA tidak hanya mencerminkan aktivitas internal perusahaan, tetapi juga intensitas kegiatan tenant di dalam kawasan. Kenaikan konsumsi energi, air, dan emisi dapat mengindikasikan meningkatnya aktivitas industri secara agregat, sekaligus memperbesar tekanan terhadap lingkungan di kawasan tersebut.

Tanpa adanya indikator intensitas—misalnya emisi atau energi per unit produksi atau per luas kawasan—sulit menilai apakah perusahaan benar-benar meningkatkan efisiensi atau sekadar mengalami pertumbuhan yang dibarengi peningkatan beban lingkungan.

Dengan tren saat ini, laporan keberlanjutan KIJA 2024 lebih mencerminkan fase ekspansi operasional dibandingkan transformasi menuju praktik industri yang lebih rendah karbon. 

Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap standar ESG, konsistensi data dan upaya penurunan intensitas lingkungan akan menjadi faktor kunci dalam menilai kualitas keberlanjutan kawasan industri ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait