KABARBURSA.COM – Perajin batik asal Jawa Tengah, Cinta Batik Semarang berhasil memperluas pasar hingga ke mancanegara setelah mengembangkan produk batik ramah lingkungan.
Dalam pengembangan usahanya, Cinta Batik Semarang menggunakan pewarna berbahan alami dan memanfaatkan ekosistem pemberdayaan UMKM yang disediakan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Usaha yang dirintis sejak 2006 oleh Iin Windhi Indah Tjahjani tersebut kini melayani pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri melalui penjualan offline, marketplace, pameran, dan kerja sama business-to-business (B2B).
Cinta Batik Semarang dikenal melalui produk batik tulis warna alam yang ramah lingkungan. Produk tersebut juga diproduksi dalam jumlah terbatas untuk menjaga eksklusivitas bagi konsumen.
Iin mengisahkan, usaha yang kini berkembang itu bermula dari pelatihan membatik yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang dalam program revitalisasi batik Semarang.
Dengan modal awal sekitar Rp50 ribu dan peralatan sederhana, Iin memulai usahanya di tengah keterbatasan pengetahuan dan akses pendampingan. Berbagai kegagalan dalam proses produksi justru menjadi pengalaman yang mendorongnya terus belajar dan meningkatkan kualitas produk.
Salah satu langkah yang mempercepat perkembangan usaha adalah bergabung dengan LinkUMKM melalui Rumah BUMN BRI.
“Mengenal LinkUMKM dari Rumah BUMN BRI, salah satu alasan yang membuat kita bergabung yaitu dikarenakan ada banyak kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita,” ujar Iin dalam keterangan resmi BRI, Senin 15 Juni 2026.
Selain memanfaatkan program pendampingan, Cinta Batik Semarang juga menggunakan layanan QRIS dan tabungan BRI untuk mendukung kegiatan bisnisnya.
Corporate Secretary BRI, Dhanny menyatakan, perjalanan Cinta Batik Semarang menjadi contoh keberhasilan UMKM lokal yang mampu berkembang melalui konsistensi menjaga kualitas dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
“Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing yang kuat ketika dikelola secara konsisten dan inovatif. Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya menjadi contoh bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. BRI akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran dan pengembangan usaha agar semakin banyak UMKM yang mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan,” pungkas Dhanny.

Sebagai informasi, BRI hingga akhir Maret 2026 mencatat bahwa LinkUMKM telah dimanfaatkan lebih dari 15,57 juta pelaku usaha sebagai sarana pengembangan kapasitas, perluasan akses pasar, hingga percepatan proses naik kelas.
Platform tersebut menghadirkan berbagai layanan terintegrasi, mulai dari UMKM Smart, Rumah BUMN, Media, Komunitas, Etalase Digital, Coaching Clinic, hingga layanan pendukung seperti registrasi Nomor Induk Berusaha (NIB).
LinkUMKM sejauh ini didukung lebih dari 840 modul pembelajaran yang mencakup pengembangan soft skill dan hard skill pelaku usaha. (Info-bks/*)