Ekonomi Hijau 27 Jan 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Masuk Sektor Energi Terbarukan, Sriwijaya Capital Tanam Investasi ke SESNA

Sriwijaya Capital dan SESNA mempunyai aspirasi dan value yang selaras dalam membangun industri energi terbarukan di Indonesia

Sriwijaya Capital, perusahaan private equity resmi melakukan investasi ke PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA)

Sriwijaya Capital resmi melakukan investasi ke PT Sumber Energi Surya Nusantara (Foto: Ist)
Sriwijaya Capital resmi melakukan investasi ke PT Sumber Energi Surya Nusantara (Foto: Ist)

Daftar Isi

  1. 01 Private Equity Baru Arsjad Rasjid Siap Gairahkan Investasi

KABARBURSA.COM - Sriwijaya Capital, perusahaan private equity resmi melakukan investasi ke PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA) sebesar USD20 juta. Investasi ini merupakan sebagai tonggak masuknya Sriwijaya Capital ke sektor energi terbarukan.

Founder dan chairman Sriwijaya Capital, Arsjad Rasjid mengatakan alasan pihaknya memilih SESNA, karena perusahaan tersebut memiliki  track record dengan 13 tahun pengalaman mengembangkan solar panel.

"Sejak berdiri, SESNA telah mengoperasikan 30+ MegawattPeak (MWp) proyek solar panel. Mulai dari proyek-proyek di kawasan industri, komersial, hingga mining," ujar dia dalam keterangan yang diterima Kabarbursa.com, Senin, 26 Januari 2026.

Arsjad menyatakan, Sriwijaya Capital dan SESNA mempunyai aspirasi dan value yang selaras dalam membangun industri energi terbarukan di Indonesia yang lebih kompetitif.

"Semoga langkah ini bisa mempercepat tercapainya target Net Zero Indonesia," ungkapnya.

Adapun tujuan investasi Sriwijaya Capital ke SESNA adalah guna mendukung PLTS berkapasitas 262 MWp yang sudah terintegrasi dengan BESS 80 MWh di Sulawesi Tengah.

Private Equity Baru Arsjad Rasjid Siap Gairahkan Investasi

Sebelumnya diberitakan, Asia Tenggara sedang memasuki momentum emas. Meski di tengah tekanan global, kelas menengah tetap tumbuh pesat, kebutuhan infrastruktur meningkat, energi bersih mendesak dan digitalisasi membuka ruang bisnis baru.

Di tengah dinamika ini, Indonesia memiliki peran strategis sebagai pasar terbesar dan motor utama di kawasan Asia Tenggara. Peluang ini dimanfaatkan Arsyad Rasjid dengan mendirikan Sriwijaya Capital. Private equity fund ini dibangun untuk memperbesar peluang ekosistem investasi nasional.

“Indonesia memiliki semua prasyarat untuk tampil sebagai pusat pertumbuhan regional. Kami membangun Sriwijaya Capital dengan visi jangka panjang agar perusahaan Indonesia mampu berkembang menjadi juara regional,” ujar Arsjad dalam keterangannya, Kamis, 2 Oktober 2025.

Kehadiran Sriwijaya Capital tidak hanya sebagai pengelola dana baru, tapi juga penghubung antara potensi domestik dengan jaringan internasional. Sejak berdiri, perusahaan ini telah menghimpun lebih dari USD200 juta pada dana perdana, dengan target hard cap USD300 juta dalam 6–12 bulan ke depan.

Berbasis di Jakarta dan Singapura, strategi investasinya berfokus pada perusahaan tahap pertumbuhan di sektor kesehatan, transisi energi, barang konsumsi, layanan bisnis, dan industri.

Model investasinya fleksibel, yakni masuk melalui kepemilikan minoritas strategis maupun mayoritas. Selain itu, Sriwijaya Capital juga menargetkan bisnis keluarga yang ingin memperkuat tata kelola atau menghadapi masalah suksesi.

Lebih lanjut, langkah awal Sriwijaya Capital ditandai dengan kemitraan bersama Danantara Indonesia. Kolaborasi ini diposisikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui investasi yang terarah dan berkelanjutan.

Tidak berhenti di situ, Sriwijaya Capital juga meraih kepercayaan dari BlueFive Capital, private equity terbesar di Timur Tengah dengan aset kelolaan USD 3 miliar. Kerja sama ini membuka jalur investasi dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai pintu masuk utama. (*) 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait