Ekonomi Hijau 11 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Minyak Jelantah Jadi Energi Terbarukan, Peluang Ekonomi Baru di Tengah Transisi Energi

Minyak jelantah berpotensi jadi bahan baku energi terbarukan SAF, namun pengembangan ekosistem dan regulasi masih jadi tantangan.

Minyak jelantah kini dilirik sebagai energi terbarukan untuk SAF. Potensinya besar, tapi ekosistem dan regulasi masih perlu diperkuat.

Minyak jelantah kini dilirik sebagai energi terbarukan untuk SAF. Potensinya besar, tapi ekosistem dan regulasi masih perlu diperkuat. Foto: Dok. Pertamina
Minyak jelantah kini dilirik sebagai energi terbarukan untuk SAF. Potensinya besar, tapi ekosistem dan regulasi masih perlu diperkuat. Foto: Dok. Pertamina

Daftar Isi

  1. 01 Infrastruktur Belum Lengkap

KABARBURSA.COM — Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga ternyata menyimpan nilai ekonomi besar. Jika dikelola dengan benar, limbah ini bisa menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel atau SAF, sekaligus mendukung transisi energi hijau.

Namun di balik potensi tersebut, tantangan utama justru terletak pada kesiapan ekosistem dari hulu hingga hilir yang dinilai belum sepenuhnya terbangun.

Peneliti postdoctoral di BRIN, Arif Rahman, mengatakan pengembangan SAF bukan sebatas isu teknologi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan jangka panjang.

Ia menjelaskan industri penerbangan global telah menargetkan netral karbon pada 2050 dengan kebutuhan pengurangan emisi mencapai 21,2 gigaton. Salah satu jalannya adalah menggantikan bahan bakar fosil dengan bahan bakar ramah lingkungan seperti SAF.

“Hasil kajian dari Life Cycle Assessment memberikan dasar ilmiah untuk mengambil keputusan terkait pengembangan kebijakan investasi dan inovasi teknologi dalam produksi SAF yang efektif menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu, 11 April 2026.

Di lapangan, upaya pengumpulan minyak jelantah mulai dijalankan. Salah satu contohnya adalah program kotak penampung minyak jelantah yang digagas Pertamina Patra Niaga.

Program ini baru berjalan di sembilan lokasi dengan target ekspansi hingga 300 titik dalam tahun ini. Setiap kotak bahkan mampu mengumpulkan lebih dari satu ton minyak jelantah per bulan, mayoritas berasal dari pelaku usaha kecil.

Perwakilan industri dari PT Noovoleum Indonesia Investama, Philippe Micone, menilai keberhasilan awal program ini tidak lepas dari faktor kepercayaan publik terhadap Pertamina.

“Kami akan bekerja sama dengan BRIN untuk menjangkau masyarakat meningkatkan kesadaran memotivasi mereka agar datang Kami akan mendaur ulang minyak yang mereka miliki serta menghitung berapa banyak emisi CO2 yang berhasil kita kurangi dari kegiatan ini,” katanya.

Infrastruktur Belum Lengkap

Dari sisi potensi, Indonesia sebenarnya berada di posisi strategis. Dengan status sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dan jumlah penduduk mencapai 276 juta jiwa, pasokan minyak jelantah diperkirakan sangat besar.

Oki Muraza dari PT Pertamina (Persero) menyebut potensi ini harus ditopang dengan sistem yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pengolahan di kilang.

“Kita perlu memiliki ekosistem yang terintegrasi di Indonesia mulai dari pengadaan bahan bakunya kemudian kemampuan kita untuk memproduksi di kilang terbaru Perlu membangun New Energy Integrated Terminal Sustainable Aviation Fuel di Indonesia agar kita bisa memiliki kemampuan ekspor,” ujarnya.

Ia menambahkan, rencana suplai SAF ke bandara Denpasar dan Cengkareng tengah disiapkan sebagai bagian dari pembentukan ekosistem domestik.

Selain infrastruktur, isu lain yang mencuat adalah standar dan sertifikasi. Pertamina menilai seluruh rantai produksi SAF harus memenuhi standar internasional agar dapat diterima di pasar global.

Sigit Setiawan dari PT Pertamina Patra Niaga menekankan perlunya sertifikasi di setiap tahapan rantai pasok minyak jelantah, mulai dari pengumpulan di tingkat hulu oleh perusahaan atau badan usaha, proses pengolahan di kilang, hingga distribusi, penyimpanan, dan penjualan.

“Distribusi penyimpanan dan penjualan yang ditangani oleh Pertamina Patra Niaga perlu dilengkapi dengan sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification Hal ini diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab atas emisi yang dihasilkan,” ujar Sigit.

Di sisi lain, pelaku usaha pengumpul minyak jelantah justru menghadapi persoalan dasar yakni belum adanya kepastian harga. Matias Tumanggor dari APJETI mengatakan kondisi ini kerap menimbulkan persoalan di lapangan.

“Oleh karena belum ada regulasi seringnya terancam oleh aparat dilapangan yang selalu dituduh melakukan penyalahgunaan,” katanya.

Menariknya, di tengah belum matangnya ekosistem dalam negeri, ekspor minyak jelantah justru sudah berjalan cukup lama. Asosiasi Eksportir Minyak Jelantah Indonesia menyebut kegiatan ekspor telah berlangsung selama 17 tahun ke berbagai negara seperti Eropa, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.

Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi pasokan, Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Tantangannya ada pada bagaimana nilai tambah bisa ditahan di dalam negeri, bukan sekadar diekspor sebagai bahan mentah.

Dengan potensi bahan baku besar, dukungan industri, dan kebutuhan global yang terus meningkat, minyak jelantah berpeluang menjadi komoditas strategis baru di sektor energi. Namun tanpa regulasi harga, standar yang jelas, serta integrasi rantai pasok yang kuat, peluang tersebut berisiko tidak optimal.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait