Ekonomi Hijau 25 Jul 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Penjualan Obligasi Hijau Merosot di Tengah Mundurnya Agenda Iklim AS dan Eropa

Penerbitan obligasi hijau global turun 32 persen, terdampak rollback kebijakan iklim di AS dan kelonggaran pelaporan ESG di Uni Eropa.

Penjualan obligasi hijau global anjlok di tengah ketidakpastian regulasi iklim AS dan Eropa. ESG makin kehilangan daya dorong.

Penjualan obligasi hijau global anjlok di tengah ketidakpastian regulasi iklim AS dan Eropa. ESG makin kehilangan daya dorong. Foto: Dok. KabarBursa.
Penjualan obligasi hijau global anjlok di tengah ketidakpastian regulasi iklim AS dan Eropa. ESG makin kehilangan daya dorong. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Penjualan obligasi hijau global merosot nyaris sepertiga sepanjang tahun ini, seiring mundurnya komitmen negara-negara maju terhadap kebijakan iklim. Pemerintah, bank, dan korporasi yang biasanya giat menerbitkan obligasi berlabel lingkungan kini mulai menahan diri, di tengah ketidakpastian regulasi serta gejolak geopolitik.

Laporan lembaga pemeringkat keberlanjutan Sustainable Fitch yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa total penerbitan obligasi berlabel yang mencakup obligasi hijau, sosial, dan berorientasi ESG lainnya, turun 25 persen secara tahunan menjadi USD440 miliar. Kuartal kedua bahkan tercatat sebagai yang terburuk sejak 2019.

Obligasi hijau, yakni instrumen utang yang ditujukan untuk proyek lingkungan atau mitigasi perubahan iklim, mencatat penurunan paling tajam, dengan penyusutan hingga USD100 miliar atau sekitar 32 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Pangsa obligasi berlabel ESG dari total penerbitan global pun ikut menyusut. Jika tahun lalu porsinya 11,7 persen, kini tinggal 10,2 persen saja.

Kemerosotan ini tak lepas dari arah kebijakan yang kini diambil negara-negara besar. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump memutuskan keluar dari sejumlah inisiatif keberlanjutan global dan mencabut berbagai standar lingkungan yang sebelumnya diberlakukan. Sementara di Eropa, parlemen Uni Eropa tengah membahas pelonggaran aturan pelaporan keberlanjutan korporasi untuk sebagian besar pelaku usaha.

Sustainable Fitch menilai keraguan para penerbit obligasi juga dipicu oleh ketidakpastian pengeluaran modal dan gangguan ekonomi makro. “Ketidakjelasan regulasi terkait ESG—baik karena penundaan implementasi maupun pembatalan kebijakan di AS dan Uni Eropa—mendorong para penerbit menunggu kejelasan lebih lanjut,” tulis lembaga itu dalam laporannya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait