Ekonomi Hijau 29 Jul 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Permintaan Energi Asia Tenggara Bakal Lampaui Uni Eropa dalam 25 Tahun

IEA memproyeksikan Asia Tenggara menjadi pusat pertumbuhan energi global, didorong ekspansi ekonomi dan kebutuhan listrik yang melonjak.

Permintaan energi Asia Tenggara diperkirakan tembus melebihi Uni Eropa pada 2050, seiring lonjakan listrik dan transisi bersih yang belum seimbang.

Permintaan energi dari Asia Tenggara diperkirakan tembus melebihi Uni Eropa pada 2050, seiring lonjakan listrik dan transisi bersih yang belum seimbang. Foto: Dok. KabarBursa.
Permintaan energi dari Asia Tenggara diperkirakan tembus melebihi Uni Eropa pada 2050, seiring lonjakan listrik dan transisi bersih yang belum seimbang. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Peran Asia Tenggara dalam sistem energi global diperkirakan akan melonjak dalam satu dekade mendatang. Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) berjudul Southeast Asia Energy Outlook 2024, pertumbuhan penduduk, ekspansi industri, dan peningkatan daya beli mendorong kawasan ini menjadi salah satu mesin utama permintaan energi dunia.

Berdasarkan proyeksi kebijakan saat ini, Asia Tenggara akan menyumbang seperempat dari total pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035. Angka ini menjadikan kawasan ini sebagai kontributor terbesar kedua setelah India. Bahkan, pada pertengahan abad, konsumsi energi Asia Tenggara akan melampaui Uni Eropa.

Permintaan tertinggi datang dari sektor kelistrikan. IEA mencatat lonjakan kebutuhan listrik mencapai 4 persen per tahun, dipicu oleh penggunaan pendingin ruangan yang meningkat seiring makin seringnya gelombang panas. Namun, lonjakan permintaan ini memunculkan persoalan. Emisi karbon Asia Tenggara diperkirakan naik 35 persen hingga 2050 jika tidak ada perubahan signifikan dalam bauran energinya.

Meski sumber energi bersih seperti surya, angin, bioenergi modern, dan panas bumi diproyeksi memenuhi sepertiga dari kenaikan permintaan energi, itu belum cukup menahan laju emisi. Untuk menekan emisi hingga setengah dari level saat ini pada 2050, kawasan ini perlu akselerasi besar-besaran, sejalan dengan hasil konferensi iklim COP28.

Delapan dari sepuluh negara anggota ASEAN telah menetapkan target emisi nol bersih. Tapi IEA mengingatkan, ketergantungan tinggi pada impor energi fosil membuat negara-negara ini rawan terhadap gejolak global. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebut Asia Tenggara memiliki potensi energi terbarukan yang kompetitif, namun teknologi bersih belum tumbuh cukup cepat.

“Asia Tenggara telah mencatat kemajuan dalam akses energi dan produksi energi bersih. Namun kini saatnya mempercepat adopsi teknologi tersebut secara lokal,” ujar Birol, dikutip dari laman IEA, Selasa, 29 Juli 2025.

Birol menambahkan, kunci dari transisi energi Asia Tenggara adalah akses terhadap pendanaan yang kuat. IEA mencatat ironi yang mencolok: Asia Tenggara hanya menarik 2 persen dari total investasi energi bersih global, meski menyumbang 6 persen PDB dunia dan 9 persen populasi global.

Untuk mencapai target iklim, kawasan ini butuh investasi lima kali lipat dari saat ini atau mencapai USD190 miliar pada 2035. Tak hanya itu, modernisasi pembangkit listrik tenaga batu bara yang masih muda (rata-rata usia di bawah 15 tahun) juga menjadi prioritas penting.

Investasi tak hanya dibutuhkan untuk panel surya dan turbin angin, tetapi juga untuk membangun infrastruktur pendukung. IEA menyebut pembangunan dan modernisasi jaringan listrik—termasuk ASEAN Power Grid dan microgrid berbasis energi terbarukan di wilayah terpencil—akan memerlukan investasi tahunan hingga USD30 miliar.

Namun, secercah harapan sudah terlihat. Sejak 2019, lebih dari 85 ribu pekerjaan telah tercipta dari sektor energi bersih di kawasan. Indonesia, dengan cadangan nikel melimpah, kini menjadi produsen utama baterai lithium-ion. Sementara Vietnam, Thailand, dan Malaysia bersaing sebagai produsen panel surya terbesar setelah China.

Singapura, pelabuhan bunkering terbesar dunia, juga berpotensi memainkan peran strategis dalam dekarbonisasi sektor pelayaran melalui bahan bakar alternatif seperti amonia dan metanol.

IEA menegaskan pentingnya kerja sama regional dalam memastikan transisi energi bersih yang inklusif dan tangguh di tengah ketegangan geopolitik dan krisis iklim. Pembukaan kantor IEA di Singapura—yang pertama di luar markas besar Paris sejak lembaga itu berdiri—menjadi simbol kedekatan IEA dengan kawasan Asia Tenggara dalam mendukung ketahanan dan transformasi energi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait