KABARBURSA.COM - Transisi energi telah menjadi agenda strategis bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ketergantungan terhadap energi fosil, dan ketidakstabilan geopolitik global. Sebagai negara dengan sumber daya energi baru dan terbarukan yang melimpah, terutama di sektor panas bumi, potensi Indonesia untuk melakukan transformasi sistem energi menuju energi bersih sangat besar.
Dalam konteks nasional, transisi energi memiliki peran vital tidak hanya dalam menjaga ketahanan energi jangka panjang, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat daya saing industri di era rendah karbon. Indonesia telah menyatakan komitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) sebelum tahun 2060 dan meningkatkan porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional menjadi 23 persen pada 2025. Namun, implementasi dari target tersebut masih menghadapi banyak kendala, mulai dari ketergantungan struktural terhadap batu bara hingga tantangan dalam pendanaan proyek energi bersih.
Setelah resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto secara eksplisit menyampaikan komitmennya terhadap transisi energi sebagai bagian dari prioritas pembangunan nasional. Dalam pidato inaugurasi di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan masyarakat Indonesia, Prabowo menekankan pentingnya swasembada energi dan transisi menuju sumber daya terbarukan untuk memastikan stabilitas nasional di tengah dinamika global.