Ekonomi Hijau 10 Jun 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Proyek Sampah Listrik Danantara di Bekasi, Bogor, dan Bali Resmi Jadi PSN

Tiga proyek PSEL Danantara di Bekasi, Bogor, dan Bali mendapat status PSN untuk percepat pengolahan sampah jadi energi.

Tiga proyek PSEL Danantara di Bekasi, Bogor, dan Bali resmi menjadi Proyek Strategis Nasional guna mempercepat pengolahan sampah menjadi listrik.

Tiga proyek PSEL Danantara di Bekasi, Bogor, dan Bali resmi menjadi Proyek Strategis Nasional guna mempercepat pengolahan sampah menjadi listrik. Foto: Dok. Bappeda Jabar.
Tiga proyek PSEL Danantara di Bekasi, Bogor, dan Bali resmi menjadi Proyek Strategis Nasional guna mempercepat pengolahan sampah menjadi listrik. Foto: Dok. Bappeda Jabar.

KABARBURSA.COM — Masalah sampah di kota-kota besar Indonesia tampaknya sudah naik kelas. Bukan lagi sekadar urusan truk pengangkut yang terlambat datang atau tempat pembuangan akhir yang penuh sesak. Kini, pemerintah memasukkannya ke daftar prioritas nasional.

Langkah itu ditandai dengan penetapan tiga proyek Pengolahan Sampah Menjadi Eneri Listrik (PSEL) di Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Status tersebut membuat ketiga proyek memperoleh dukungan percepatan dari pemerintah pusat agar proses pembangunannya tidak tersendat oleh persoalan birokrasi maupun koordinasi antarinstansi.

Penetapan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai melihat persoalan sampah sebagai isu yang tak bisa lagi diselesaikan dengan menambah luas tempat pembuangan akhir semata. Sampah kini didorong menjadi sumber energi sekaligus bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi.

PT Danantara Investment Management (DIM) bersama anak usahanya, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), menyambut keputusan tersebut. Sebagai perusahaan yang ditugaskan mengembangkan proyek PSEL nasional, Denera akan mengawal pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi melalui investasi, pemilihan teknologi, hingga kemitraan dengan berbagai pihak.

Chief Executive Officer DIM, Pandu Sjahrir, menilai status PSN menjadi momentum penting bagi pengembangan industri pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.

“Melalui Denera, kami ingin membantu percepatan realisasi ekosistem Waste-to-Energy yang mampu menjadi bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan pengelolaan sampah di Indonesia. Penetapan PSN terhadap di tiga lokasi gelombang pertama ini menunjukkan komitmen Pemerintah untuk menghadirkan solusi yang terintegrasi untuk mengatasi krisis sampah. Inisiatif ini mencakup perbaikan sistem pengelolaan sampah, pengurangan ketergantungan pada TPA, hingga optimalisasi pemanfaatan sampah menjadi energi,” ujar Pandu dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Rabu, 10 Juni 2026.

Status PSN diberikan melalui Surat Keterangan Proyek Strategis Nasional yang diterbitkan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) kepada badan usaha pengembang dan pengelola di masing-masing lokasi.

Untuk proyek Bekasi, pengembangnya adalah Bekasi Environment Nusantara. Sementara proyek Bogor Raya dijalankan oleh Nusantara Bogor New Energy dan proyek Denpasar Raya dikelola Nusantara Bali New Energy.

Ketiga badan usaha tersebut nantinya bertanggung jawab penuh terhadap pengembangan dan pelaksanaan proyek sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama pemerintah.

Dengan menyandang status PSN, proyek-proyek itu akan memperoleh dukungan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk fasilitasi penyelesaian berbagai hambatan yang selama ini kerap membuat proyek infrastruktur berjalan lambat.

Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, mengatakan penetapan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah kini telah menjadi agenda strategis nasional.

“Penetapan PSN ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah melalui PSEL bukan lagi sekadar kebutuhan daerah, melainkan bagian dari kepentingan strategis nasional. Bagi Denera, status ini tidak hanya mempercepat realisasi di tiga lokasi awal, tetapi juga menjadi pijakan penting bagi pengembangan fasilitas PSEL di lokasi-lokasi berikutnya,” kata Fadli.

Proyek-proyek ini mendesak karena bertujuan mengurangi ketergantungan kota-kota besar terhadap tempat pembuangan akhir yang semakin penuh dan semakin sulit diperluas.

Karena itu, tiga proyek gelombang pertama ini akan menjadi ujian awal. Jika berhasil, model serupa berpotensi diperluas ke berbagai kota lain yang menghadapi persoalan sampah kronis. Jika gagal, tumpukan sampah akan tetap menjadi pemandangan rutin yang diwariskan dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait