Ekonomi Hijau 09 May 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

RI Pacu PLTS 100 GW, Tekankan Kolaborasi Energi Bersih ASEAN

Indonesia mempercepat proyek tenaga surya 100 GW sambil mendorong kolaborasi energi baru terbarukan (EBT).

Prabowo mendorong pengembangan energi bersih ASEAN dan mempercepat pembangunan PLTS 100 GW di Indonesia.

Indonesia sendiri tengah menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). (Foto: Dok. Kementerian ESDM)
Indonesia sendiri tengah menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). (Foto: Dok. Kementerian ESDM)

KABARBURSA.COM – Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan transisi energi bersih di kawasan ASEAN dengan memperkuat kolaborasi pengembangan energi baru terbarukan. 

Indonesia sendiri tengah menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis, 7 Mei 2026 waktu setempat.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan kawasan ASEAN memiliki potensi besar untuk mempercepat pengembangan energi bersih, mulai dari tenaga air, surya, hingga angin. 

Menurut dia, potensi tersebut dapat menjadi fondasi baru dalam memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” kata Prabowo.

Presiden juga menyoroti sejumlah proyek energi bersih yang dinilai strategis untuk kawasan. Beberapa di antaranya mencakup pengembangan tenaga air di Kalimantan, perluasan proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir ASEAN.

Menurut Prabowo, Indonesia saat ini sedang mempercepat pembangunan energi surya dalam skala besar. 

“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah membangun tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita. BIMP-EAGA memiliki potensi yang besar,” ujar dia.

Usai mendampingi Presiden dalam forum tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan KTT BIMP-EAGA juga mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035. Dokumen itu menjadi kerangka strategis kawasan untuk memperkuat konektivitas, transformasi pariwisata, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Bahlil mengatakan salah satu fokus utama dalam kerja sama empat negara BIMP-EAGA adalah sektor energi dan infrastruktur ketenagalistrikan melalui Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC). Indonesia sebelumnya memimpin klaster tersebut pada periode 2022–2025 sebelum dilanjutkan Malaysia untuk periode 2026–2029.

“Hasil dari klaster ini meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik, proyek energi terbarukan, elektrifikasi pedesaan, dan program efisiensi energi serta konservasi energi,” kata Bahlil.

Menurut dia, kerja sama tersebut diharapkan memperluas akses energi bagi masyarakat di wilayah terpencil dengan biaya yang lebih terjangkau.

Bahlil juga menegaskan pemerintah tengah menjalankan sejumlah strategi transisi energi sesuai arahan Presiden. Langkah tersebut mencakup peningkatan bauran energi baru terbarukan, pengembangan energi hidrogen, nuklir, dan amonia, hingga percepatan elektrifikasi melalui kendaraan listrik dan kompor induksi.

Selain itu, pemerintah juga melanjutkan kebijakan moratorium pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru serta pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture storage/carbon capture utilization and storage (CCS/CCUS).

“Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” ujar Bahlil.

Pemerintah menilai pengembangan energi baru terbarukan di kawasan ASEAN menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan perubahan iklim global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait