Ekonomi Hijau 28 Nov 2025 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Strategi Energi RI Dinilai Tak Sinkron Visi Prabowo

CREA menilai strategi JETP Indonesia gagal maksimalkan potensi energi surya dan angin, serta tak sinkron dengan visi Presiden Prabowo soal transisi energi.

JETP dikritik karena abaikan PLTS & angin. CREA: strategi tak sejalan dengan visi Presiden Prabowo. Pendanaan transisi energi RI bisa terhambat.

Ilustrasi energi terbarukan. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi energi terbarukan. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Selain soal PLTU, JETP dinilai gagal menetapkan target agresif untuk pembangkit energi surya dan angin, dua sumber energi terbarukan yang murah dan berpotensi besar. 

Sebaliknya, strategi pemerintah justru menitikberatkan pada pembangkit tenaga air skala besar dan bioenergi, yang menurut CREA tidak optimal dan berisiko menghambat penurunan emisi setelah 2030.

Kritik juga diarahkan pada komitmen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) Indonesia. Target bauran energi terbarukan 19 hingga 23 persen pada 2030 dan puncak emisi energi pada 2038 dianggap tidak lebih dari skenario business as usual.

Pendiri dan Analis Utama CREA, Lauri Myllyvirta menyoroti ketidaksinkronan strategi JETP dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan penghentian pembangkit berbasis fosil pada 2040.

“Strategi yang ditetapkan JETP saat ini pada dasarnya sama seperti komitmen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) Indonesia, tidak sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Ketidaksinkronan ini melemahkan kredibilitas Indonesia di mata investor internasional serta berpotensi menghambat penyaluran pendanaan transisi energi senilai US$ 21,6 miliar dari negara mitra JETP,” ujar Lauri dalam keterangan tertulis, dikutip KabarBursa.com, Jumat, 27 November 2025.

Ia menambahkan, Pemerintah Indonesia perlu melakukan langkah agresif untuk menghentikan ketergantungan pada PLTU dalam ketersediaan listrik negara.

“Hanya dengan menyelaraskan kembali target dengan visi ini, Indonesia dapat membuka investasi yang dibutuhkan untuk merombak total ketergantungan struktural yang berkelanjutan pada pembangkit listrik batu bara," pungkas Lauri.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait