IHSG sempat dibuka goyah di 6.880—melemah 16 basis poin pada pukul 09.10—sebelum merangkak tipis ke 6.913 menjelang rehat siang. Di balik gerak zig-zag itu terselip kegamangan investor terhadap rilis data inflasi Amerika pekan ini serta isu perlambatan kredit domestik. Imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun nyaris tak bergeming, bertengger di kisaran 6,6–6,7 persen—tingkat yang masih dianggap atraktif untuk penerbit korporasi lokal.
Pasar ekuitas, singkatnya, sedang kehabisan bahan bakar. Kapitalisasi baku seperti bank jumbo dan produsen komoditas cenderung lesu, sementara investor asing menjaga jarak di tengah rupiah yang parkir di area Rp16.300 per dolar. Dalam lanskap yang datar itu, BRPT muncul seperti percikan api: harga sahamnya menanjak lebih empat persen ke Rp1.660-an, melawan arus sepi beli di papan utama.