Lonjakan harga TOBA terjadi tak lama setelah seluruh jajaran direksi masuk pasar lewat aksi akumulasi yang terkoordinasi. Pada 4 Juni 2025, lima orang direktur PT TBS Energi Utama Tbk memborong saham perseroan dalam rangka pelaksanaan program Management and Employee Stock Option Program (MESOP). Skema ini dirancang untuk memberi insentif jangka panjang kepada manajemen dan karyawan, dengan memberikan hak beli saham perusahaan pada harga tertentu. MESOP umumnya dipandang sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap masa depan perusahaan. Dalam kasus TOBA, sinyal itu datang bersamaan dari semua penjuru direksi.
Nama yang paling menonjol adalah Dicky Yordan. Direktur berdarah Singapura ini membeli hampir 76 juta lembar saham hanya dalam sehari, di kisaran harga Rp258 hingga Rp590. Dengan nilai transaksi sebesar Rp31,47 miliar, Dicky kini menggenggam 1,52 persen kepemilikan di TOBA—naik drastis dari posisinya sebelumnya. Di belakangnya, Direktur Juli Oktarina juga menambah porsi sebesar 1,78 juta lembar saham, disusul Alvin Firman Sunanda dengan 1,87 juta, serta dua direktur lainnya, Mufti Utomo dan Sudharmono Saragih, yang masing-masing membeli 769 ribu lembar saham.