Kerja sama nuklir antara Indonesia dan Rusia bukan kabar baru, tapi arah perundingannya mulai bergerak lebih konkret dalam beberapa bulan terakhir. Pada Kamis, 19 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg. Dalam pertemuan bilateral itu, satu isu yang digarisbawahi secara eksplisit adalah dukungan Rusia terhadap pembangunan PLTN pertama di Indonesia.
Dukungan itu bukan sekadar diplomasi basa-basi. Rusia datang dengan tawaran menyeluruh: dari penyediaan teknologi reaktor, pembiayaan proyek, hingga pelatihan sumber daya manusia. Pemeran utamanya adalah Rosatom, badan usaha milik negara yang dalam dua dekade terakhir menjelma sebagai eksportir dominan teknologi nuklir dunia. Mereka kini menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar ekspor reaktor global dan menjadi tulang punggung pembangunan PLTN di negara-negara berkembang seperti Mesir, Bangladesh, Turki, hingga Uzbekistan.