KABARBURSA.COM - Saham TINS ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026 setelah menguat 1,72 persen atau 60 poin ke level Rp3.540. Penguatan ini tidak lepas adanya aksi akumulasi dari investor asing.
Berdasarkan data broker summary investor asing Stockbit, dua broker yakni AK dan BK terlihat cukup dominan menampung dana asing untuk mengakumulasi saham TINS.
Stockbit mencatat, broker AK membukukan nilai pembelian sahak TINS hingga Rp26,1 miliar atau setara 74.800 lot dengan harga rata-rata Rp3.507 per saham.
Sementara broker BK bertengger di peringkat kedua dengan nilai akumulasi sebesar Rp11,1 miliar sebanyak 31.600 lot pada harga rata-rata Rp3.514 per saham.
Selain kedua broker tersebut, akumulasi juga dilakukan oleh broker TP dengan nilai pembelian Rp162,4 juta sebanyak 464 lot pada harga rata-rata Rp3.500. Sementara, broker DH dan KK mencatat transaksi pembelian yang relatif kecil masing-masingsebesar Rp14,8 juta dan Rp348 ribu.
Di sisi lain, tekanan jual dari investor asing terlihat lebih terbatas. Broker CC menjadi penjual terbesar dengan nilai transaksi Rp1,8 miliar, disusul broker YP sebesar Rp1,1 miliar dan broker ZP sekitar Rp1 miliar.
Sementara broker OD dan XA masing-masing mencatat nilai penjualan sekitar Rp10,6 juta dan Rp10,2 juta.
Meski belum dapat dijadikan penentu arah jangka panjang, derasnya akumulasi investor asing pada perdagangan kali ini menunjukkan bahwa TINS masih menjadi salah satu saham pilihan di sektor pertambangan.
Pergerakan dana tersebut dapat menjadi petunjuk awal bagi investor dalam mencermati potensi tren berikutnya.
Pergerakan Saham TINS
Kinerja saham TINS dalam jangka pendek terpantau positif. Mengutip data Stockbit, Kamis, 18 Juni 2026, dalam sepekan terakhir, saham perseroan naik 12,74 persen. Namun, secara bulanan, TINS masih mencatat koreksi sebesar 3,54 persen.
Meski demikian, performa jangka menengah hingga panjang saham TINS masih menunjukkan tren yang solid. Dalam tiga bulan terakhir, TINS menguat 6,63 persen, sementara secara year-to-date (YTD) atau sejak awal tahun telah naik 13,83 persen.
Penguatan yang lebih signifikan terlihat pada kinerja tahunan. Dalam satu tahun terakhir, saham TINS melesat 205,17 persen. Jika ditarik lebih panjang, saham ini membukukan kenaikan 261,22 persen dalam tiga tahun terakhir, 136 persen dalam lima tahun, dan melonjak hingga 388,28 persen dalam periode 10 tahun.
Dari sisi rentang pergerakan harga, posisi saham TINS saat ini masih berada di bawah level tertinggi dalam beberapa periode waktu. Dalam satu bulan terakhir, TINS bergerak pada kisaran Rp2.650 hingga Rp3.700 per saham. Sementara dalam enam bulan terakhir, saham ini diperdagangkan pada rentang Rp2.650 hingga Rp4.720.
Adapun level tertinggi dalam satu tahun terakhir tercatat di Rp4.720 per saham, sedangkan posisi terendah berada di Rp980 per saham. Harga saat ini di level Rp3.540 menunjukkan bahwa TINS masih memiliki ruang untuk kembali menguji area puncak tahunannya.
Sentimen positif terhadap saham TINS juga tercermin dari konsensus analis. Berdasarkan data yang tersedia, sebanyak 12 analis Stockbit memberikan rekomendasi beli atau buy terhadap saham TINS. Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi tahan (hold) maupun jual (sell).
Konsensus tersebut menghasilkan target harga rata-rata sebesar Rp4.597 per saham. Sementara itu, estimasi target tertinggi berada di level Rp5.100 dan target terendah di Rp4.190 per saham.
Jika dibandingkan dengan harga saat ini di level Rp3.540, target harga rata-rata analis mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 29,9 persen. Adapun target harga tertinggi mencerminkan peluang penguatan hingga sekitar 44,1 persen.
Fundamental Solid
TINS mencatatkan performa keuangan yang solid berdasarkan data fundamental terkini. Dengan harga saham di level 3.540, perusahaan menunjukkan kombinasi antara profitabilitas yang mumpuni serta neraca keuangan yang sehat.
TINS menunjukkan efisiensi operasional yang terjaga dengan baik. Perusahaan mencatatkan Return on Equity (ROE) sebesar 27,09 persen dan Return on Assets (ROA) sebesar 17,71 persen dalam dua belas bulan terakhir.
Margin keuntungan perusahaan pun berada di level yang cukup impresif. Tercatat, margin laba kotor (Gross Profit Margin) kuartalan berada di angka 38,60 persen, margin operasional sebesar 34,36 persen, dan margin laba bersih (Net Profit Margin) mencapai 27,46 persen.
Angka-angka tersebut menandakan kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya operasional di tengah dinamika harga komoditas global.
Dari sisi solvabilitas, TINS memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menopang operasionalnya. Current Ratio tercatat di level 2,76 kali, sementara Quick Ratio berada di angka 1,88 kali, menunjukkan likuiditas yang sangat memadai untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
Selain itu, tingkat ketergantungan perusahaan terhadap utang relatif rendah dengan Debt to Equity Ratio (DER) hanya sebesar 0,11 kali.
Di tengah performa operasional tersebut, valuasi TINS dinilai berada pada level yang menarik bagi investor. Rasio Price to Earnings (PE Ratio) TTM berada di angka 9,77 kali, dengan rasio EV to EBITDA sebesar 5,60 kali.
Perusahaan juga tetap berkomitmen memberikan nilai tambah kepada pemegang saham melalui dividen. Berdasarkan data terbaru, TINS memberikan dividen sebesar 88,19 per saham (TTM) dengan dividend yield sebesar 2,49 persen.
Rasio pembayaran dividen (payout ratio) perusahaan berada di angka 10,94 persen, memberikan ruang yang cukup fleksibel bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis di masa mendatang. Adapun tanggal ex-dividend terakhir tercatat pada 23 Juni 2025.
Laba Melonjak di Kuartal I 2026
Sebelumnya diberitakan, TINS mencatat lonjakan kinerja keuangan pada kuartal I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun. Capaian ini ditopang oleh peningkatan produksi yang signifikan, optimalisasi operasional, serta perbaikan tata kelola perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp5,47 triliun, melonjak 160,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,10 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume penjualan serta harga jual rata-rata logam timah di pasar global.
Kinerja operasional meningkat tercermin dari laba usaha yang mencapai Rp1,88 triliun, naik signifikan dari Rp148 miliar pada kuartal I 2025. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp2,1 triliun atau tumbuh lebih dari 450 persen secara tahunan dari Rp348 miliar.
Adapun laba bersih sebesar Rp1,5 triliun tersebut setara dengan 595 persen dari target yang telah ditetapkan perseroan sebesar Rp252 miliar, mencerminkan realisasi yang jauh melampaui ekspektasi awal.
Direktur Utama Restu Widiyantoro menyampaikan bahwa capaian ini tidak terlepas dari konsistensi strategi efisiensi dan optimalisasi di seluruh lini bisnis.
“Pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian operasional yang signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi yang berkelanjutan di seluruh lini bisnis. Sehingga Perseroan mampu melampaui target laba yang ditetapkan,” ujarnya dalam keterangan resminya dikutip Selasa, 5 Mei 2026.
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 11,62 persen menjadi Rp15,23 triliun dari Rp13,64 triliun pada akhir 2025. Liabilitas tercatat sebesar Rp5,27 triliun atau naik tipis 1 persen dibandingkan posisi akhir tahun lalu. Sementara itu, ekuitas meningkat 18,4 persen menjadi Rp9,96 triliun dari Rp8,41 triliun, seiring dengan pertumbuhan laba yang signifikan. (*)
Disclaimer
Data dan analisis yang disampaikan dalam pemberitaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga saham, masuknya supply dan demand pasar, aksi pelaku besar, serta perubahan sentimen dan perilaku investor di pasar modal.
Analisis disusun untuk memberikan konteks mengenai struktur pasar, pola akumulasi dan distribusi, kondisi fundamental, serta perilaku pelaku pasar terhadap saham FILM, dan bukan merupakan ajakan membeli maupun menjual saham tertentu.
Investor diimbau untuk tetap melakukan analisis secara mandiri, memperhatikan keterbukaan informasi resmi Perseroan, serta mempertimbangkan profil risiko dan strategi investasi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.