Pekan ini, dunia kembali menoleh ke Selat Hormuz, selat sempit yang menyambungkan Teluk Persia ke Laut Arab. Parlemen Iran secara bulat menyetujui rencana penutupan jalur pelayaran itu, sebagai tanggapan atas serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir mereka. Kini keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang tengah menimbang apakah akan benar-benar menutup gerbang distribusi energi dunia itu.
Tak ada yang melebih-lebihkan pentingnya Hormuz. Sekitar 17 hingga 21 juta barel minyak mentah—atau seperlima dari konsumsi global—mengalir tiap hari dari kawasan Teluk melalui selat ini. Penutupan selat, walau hanya sebagian, cukup untuk mengganggu pasokan dan mengguncang harga energi global.