Insight Daily 03 Mar 2026 Penulis: KabarBursa.com

Minyak Dunia Naik saat Konflik AS-Israel vs Iran, Kenapa Asing Malah Exit dari ELSA dan MEDC?

Kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik mendorong lonjakan saham migas domestik, tetapi arus dana asing justru mencatat net sell besar dari ELSA dan MEDC.

KABARBURSA.COM — Saham migas melonjak dua digit di tengah lonjakan harga minyak dunia, namun arus dana asing justru bergerak ke arah sebaliknya. Kemarin, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) ditutup naik 17,65 persen ke level 1.000 ketika investor asing membukukan net sell sekitar Rp76,76 miliar, sementara PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 15,65 persen ...

Minyak dunia melonjak tajam di tengah konflik AS–Israel vs Iran, namun asing justru mencatat net sell besar pada saham migas ELSA dan MEDC. Foto: Dok. Mehr News
Minyak dunia melonjak tajam di tengah konflik AS–Israel vs Iran, namun asing justru mencatat net sell besar pada saham migas ELSA dan MEDC. Foto: Dok. Mehr News

Insight Navigator

  1. 01 Kenaikan Semu di Tengah Arus Keluar Asing
  2. 02 Transmisi Harga Minyak yang Tidak Serentak

Lonjakan harga minyak global yang menjadi latar pergerakan saham migas domestik bermula dari eskalasi konflik pada 28 Februari 2026, ketika serangan militer Amerika Serikat–Israel ke Iran memicu respons balasan berupa serangan drone dan rudal serta ancaman terhadap jalur pelayaran energi di Teluk. Dampak langsungnya terasa di Selat Hormuz, jalur sempit yang menyalurkan sekitar 18–19 juta barel minyak per hari—setara hampir 20 persen konsumsi minyak dunia. Laporan pelayaran internasional menunjukkan lalu lintas tanker sempat turun sekitar 70 persen dalam beberapa hari pertama krisis. Dalam pasar komoditas yang sangat sensitif terhadap gangguan pasokan, angka tersebut cukup untuk mendorong premi risiko melonjak tajam.

Di tengah ketegangan itu, harga Brent dan WTI bergerak naik signifikan dalam hitungan hari. Pelaku pasar mulai kembali membicarakan skenario ekstrem yang selama ini hanya menjadi catatan analisis. Jika gangguan di Hormuz berlarut, harga minyak berpotensi menembus kisaran USD100 hingga USD150 per barel. Skenario tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan proyeksi berbasis struktur suplai global yang memang bertumpu pada negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab—seluruhnya bergantung pada satu chokepoint yang sama.

Insight Daily Investor Pro Access

Lanjutkan membaca analisa lengkap Insight Daily

Bagian lanjutan berisi market intelligence harian, momentum sektoral, money flow, katalis pasar, dan risk point yang hanya tersedia untuk pelanggan KabarBursa Investor Pro.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Research Analyst
KA
Market Intelligence Analyst

KabarBursa.com

Insight Daily Lainnya