Indonesia bukan lagi sekadar pemain. Ia kini raksasa. Data dari U.S. Geological Survey (USGS) 2023 menunjukkan Indonesia menguasai 42 persen cadangan nikel dunia dan menyumbang 51 persen dari total produksi global. Di pasar nikel primer—yakni ferronikel, nickel matte, dan produk turunan lainnya—posisi Indonesia makin mencolok. Berdasarkan estimasi Standard & Poor’s yang dirujuk Institute for Energy Economics and Financial Analysis atau IEEFA dalam laporan berjudul Indonesia's Nickel Companies: The Need for Renewable Energy Amid Increasing Production, Indonesia memproduksi 40 persen dari seluruh pasokan nikel primer global. Ini artinya, satu dari dua baterai kendaraan listrik yang diproduksi dunia bisa jadi berbahan nikel Indonesia.
Di balik data itu, ada empat emiten besar yang bekerja. Mereka adalah PT Vale Indonesia Tnk (INCO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang menguasai 26 persen dari seluruh produksi nikel nasional. Tahun 2023, keempatnya memproduksi 353.000 ton nikel dari total 1,36 juta ton produksi primer nasional. Dari sisi finansial, mereka mengantongi total pendapatan USD6,8 miliar dan laba bersih USD996 juta—masih di bawah kontribusi emiten batu bara, tapi mulai mengejar, khususnya dalam nilai tambah dan daya tawar global.