Tekanan pada saham BRIS mulai terlihat sejak pembukaan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Harga sempat menyentuh level tertinggi harian di 1.995 sebelum perlahan turun dan ditutup di 1.910, melemah 4,02 persen dalam sehari. Namun jika ditarik sedikit lebih lebar, pelemahan ini sebenarnya terjadi setelah BRIS mengalami reli cukup agresif dalam sepekan terakhir. Dari posisi terendah mingguan di 1.775, saham Bank Syariah Indonesia itu sempat melesat hingga hampir menyentuh area psikologis 2.000 sebelum akhirnya kehilangan momentum dan berbalik terkoreksi.
Pola seperti ini umumnya menunjukkan fase “cooling down” setelah kenaikan cepat. Apalagi area 2.000 selama beberapa waktu terakhir menjadi level psikologis yang cukup sensitif bagi BRIS. Ketika harga gagal menembus area tersebut, pelaku pasar jangka pendek mulai merealisasikan keuntungan. Karena itu, tekanan yang muncul sejauh ini lebih terlihat sebagai profit taking dan penyesuaian valuasi jangka pendek dibanding perubahan tren besar secara drastis.