Saat ini, harga energi global masih labil dan transisi energi berjalan tersendat. Di pasar internasional, futures gas alam AS, misalnya, berada di sekitar USD3,3 per MMBtu (setara Rp55.110 dengan kurs Rp16.700), setelah laporan EIA menunjukkan penambahan pasokan sebesar 120 miliar kaki kubik—melewati ekspektasi dan jauh di atas rerata lima tahun. Ini membuat harga gas dunia berpotensi kembali mengalami tekanan.
Sementara itu di dalam negeri, Kementerian ESDM masih memberlakukan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar USD6,5–7 per MMBtu (sekitar Rp108.550–Rp116.900). Namun dalam praktiknya, beberapa pelaku industri mengaku membayar hingga USD16,77 per MMBtu (setara Rp280.059), menunjukkan masih adanya disparitas harga antara kebijakan dan realisasi di lapangan.