Di balik papan harga yang tampak hijau, dunia komoditas sedang berawan. Khususnya untuk sektor tambang—rumah besar bagi sebagian portofolio SRTG seperti Adaro dan Merdeka Copper Gold. Harga nikel, misalnya, terjun bebas ke kisaran USD15.049 per dmt (setara Rp246.805.600), turun lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar angka di layar Bloomberg, tapi sinyal bahwa investor perlu bersiap menghadapi musim yang mungkin lebih panjang dari yang diduga pasar domestik.
Sementara itu, komoditas logam lain seperti aluminium juga ikut masuk angin. Ditutup di level USD2.472 per ton (setara Rp40.540.800), harga logam ini mencerminkan tekanan lanjutan dari perlambatan industri global—terutama dari China yang belakangan seperti ragu menekan pedal gas pertumbuhan ekonominya. Di tengah sentimen seperti itu, investor global jelas tak punya banyak ruang untuk bermain agresif.