FASE kuartal IV 2025 hingga awal 2026 menjadi periode penentu bagi sektor perbankan nasional. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dari 4,75 persen ke arah 4,25 persen, pasar kini menilai bank bukan hanya dari kemampuan menurunkan biaya dana (Cost of Fund/CoF), tetapi juga dari efektivitas mempertahankan margin dan memperluas sumber pendapatan non-bunga.
Bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), kombinasi tiga tuas utama, yaitu CoF, asset yield, dan non-interest income, disebut menjadi poros utama kinerja hingga kuartal pertama 2026. Tantangannya bukan sekadar menjaga stabilitas NIM, melainkan memastikan ketahanan kualitas aset mikro di tengah fase ekspansi moneter yang masih rapuh dan persaingan likuiditas yang makin ketat.