KABARBURSA.COM — Di tengah pergeseran geopolitik ekonomi Islam global, penunjukan Jakarta sebagai Regional HQ B57+ telah memicu lahirnya sebuah episentrum baru. Sektor swasta dari 57 lebih negara anggota OKI kini mulai mengambil alih kemudi dari birokrasi G-to-G yang kaku demi mengakhiri hegemoni pasar Barat. Namun, arsitektur ekonomi raksasa berkonsep B to B ini mustahil berputar tanpa adanya dirigen keuangan yang kuat. Di sinilah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) muncul sebagai pemain tunggal. Berbekal status Persero teranyar dan posisi barunya yang berdiri sejajar dengan Bank Mandiri di bawah kedaulatan Sovereign Wealth Fund Danantara, BRIS kini memegang kunci brankas likuiditas koridor Asia-Pasifik hingga Timur Tengah.
Laporan eksklusif Investor Pro kali ini akan membedah secara mendalam mengapa BRIS bukan lagi sekadar bank alternatif simpan-pinjam tradisional, melainkan sebuah platform ekonomi halal regional yang sedang bersiap menghadapi re-rating valuasi besar-besaran. Dari balik integrasi taktis kantor cabang penuh di Dubai hingga lompatan laba bersih Rp7,57 triliun yang meneteskan dividen agresif 44 persen, kita akan mengupas bagaimana emiten ini mendesain pertumbuhan jangka panjangnya.