KABARBURSA.COM - Pemangkasan drastis dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 telah menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan transportasi publik di Indonesia.
Djoko Setijowarno, akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, mengungkapkan keresahan mendalamnya terhadap pengurangan anggaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang signifikan ini.
Sejak 2020, anggaran Kemenhub telah mengalami fluktuasi yang cukup besar. Di tengah pandemi pada 2020, alokasi mencapai Rp34,7 triliun. Angka ini mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya sebelum akhirnya melonjak kembali pada 2024 dengan pagu anggaran sebesar Rp38,9 triliun.
Namun, dalam Rancangan APBN 2025, anggaran tersebut dipangkas tajam menjadi Rp24,8 triliun penurunan sebesar 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Djoko menyatakan, pemangkasan ini akan menghambat banyak proyek transportasi, terutama di luar Pulau Jawa, di mana perhatian pemerintah terhadap infrastruktur transportasi dinilai masih sangat minim. "Pagu Rp24,8 triliun itu terlalu kecil. Proyek-proyek di daerah terpencil, seperti kawasan transmigrasi dan penghasil tambang, jelas akan terabaikan," tegas Djoko dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 23 Agustus 2024.
Djoko juga mengkritik kecenderungan pemerintah untuk mengandalkan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam proyek-proyek transportasi. Menurutnya, model ini hanya menarik untuk proyek di Pulau Jawa karena populasi yang besar dan prospek pengembalian modal yang lebih cepat. Sementara itu, di luar Jawa, dengan populasi yang lebih kecil, proyek-proyek transportasi cenderung tidak diminati karena dianggap kurang menguntungkan dalam jangka pendek.
Sejalan dengan Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (2025), kebijakan strategis Kemenhub untuk tahun 2026-2029 menitikberatkan pada pengembangan konektivitas. Namun, Djoko menegaskan bahwa pemerintah daerah juga harus aktif dalam mendukung inisiatif ini. "Pemerintah daerah perlu berkolaborasi dengan pemerintah pusat dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan yang sejalan dengan visi nasional," ujarnya.
Krisis Transportasi Umum di Indonesia
Selain masalah anggaran, Djoko juga menyoroti kondisi darurat transportasi umum di berbagai daerah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memerlukan penanganan serius terhadap transportasi publik yang dapat menjangkau wilayah terpencil. Djoko menekankan pentingnya keberadaan armada angkutan perintis yang dapat beroperasi beberapa kali dalam seminggu sebagai solusi sederhana namun efektif.
Ia mendesak pemerintah daerah agar menjadikan pembangunan transportasi publik sebagai prioritas utama dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat. Koordinasi antar kementerian, seperti Kemenhub dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), juga perlu ditingkatkan agar pembangunan transportasi di daerah bisa lebih optimal.
Harapan besar kini tertuju pada Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka. Djoko berharap pemerintahan baru ini lebih memperhatikan persoalan transportasi, yang tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemenhub semata, melainkan memerlukan dukungan lintas kementerian serta sinergi dengan pemerintah daerah demi terciptanya transportasi berkelanjutan di seluruh penjuru Nusantara.
Pembangunan infrastruktur transportasi yang digagas oleh Pemerintah dalam satu dekade terakhir telah menjadi katalis utama yang mempercepat perputaran roda perekonomian nasional. Dengan peningkatan mobilitas barang dan orang, dampaknya terasa signifikan pada produktivitas serta distribusi komoditas, baik di pasar domestik maupun internasional. Ini terutama berlaku untuk sumber daya alam (SDA) dan sektor pariwisata unggulan, yang kini mulai bergerak lebih dinamis.