Makro 20 Feb 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Angin Segar Industri Tekstil, Tarif 0 Persen ke AS Lindungi Nasib 4 Juta Pekerja Lokal

Tarif 0 persen ke AS lewat skema TRQ dorong ekspor tekstil Indonesia, buka peluang pasar USD82 miliar dan jaga 4 juta tenaga kerja sektor TPT.

Tarif nol persen ke AS dorong ekspor tekstil RI dari USD4 miliar ke USD40 miliar. Kebijakan ini berpotensi melindungi 4 juta pekerja industri TPT nasional.

Tarif nol persen ke AS dorong ekspor tekstil RI dari USD4 miliar ke USD40 miliar. Kebijakan ini berpotensi melindungi 4 juta pekerja industri TPT nasional. Foto: Dok. Kemenperin
Tarif nol persen ke AS dorong ekspor tekstil RI dari USD4 miliar ke USD40 miliar. Kebijakan ini berpotensi melindungi 4 juta pekerja industri TPT nasional. Foto: Dok. Kemenperin

KABARBURSA.COM – Kesepakatan perdagangan terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat membawa kabar baik bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru saja ditandatangani, produk tekstil dan garmen asal Indonesia dipastikan akan menikmati tarif masuk 0 persen wake pasar Amerika Serikat melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar urusan angka perdagangan, melainkan langkah nyata pemerintah dalam melindungi jutaan lapangan kerja di dalam negeri.

“Khusus untuk produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme TRQ. Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini,” ujar Airlangga dalam konferensi pers usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Washington D.C., Jumat, 20 Februari 2026.

Airlangga menambahkan, jika dihitung beserta anggota keluarga para pekerja tersebut, kebijakan ini berdampak langsung pada kesejahteraan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia. Pembebasan tarif ini diharapkan mampu memulihkan daya saing produk garmen Indonesia di pasar global, terutama di tengah ketatnya persaingan dengan negara produsen lain.

Selama ini, nilai ekspor tekstil Indonesia ke Amerika Serikat berada di kisaran USD4 miliar per tahun. Dengan dibukanya akses pasar yang sangat luas melalui tarif nol persen, pemerintah mematok target pertumbuhan yang ambisius.

“Amerika adalah pasar yang besar, hampir 28 kali lipat dari pasar Indonesia. Kita merencanakan untuk melakukan ekspansi industri tekstil dari ekspor sekitar USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun ke depan,” jelas Airlangga.

Menariknya, kerja sama ini juga mencakup pengembangan manufaktur berbasis bahan berkelanjutan. Dalam rangkaian agenda tersebut, telah ditandatangani pula MoU terkait pengolahan pakaian yang berbasis katun maupun polyester recycle (daur ulang). Hal ini menandakan industri tekstil Indonesia mulai bertransformasi menuju standar industri hijau yang diinginkan pasar internasional.

Besarnya peluang pasar Amerika Serikat menjadi salah satu alasan pemerintah mematok target ekspansi ekspor tekstil secara agresif. Nilai impor produk apparel Negeri Paman Sam setiap tahun berada di kisaran USD79 miliar hingga USD82 miliar, menjadikannya pasar terbesar bagi produk garmen dunia. Namun dari angka tersebut, porsi Indonesia masih relatif kecil.

Saat ini, kontribusi Indonesia baru berada di kisaran empat persen atau sekitar USD4 miliar hingga USD4,5 miliar per tahun. Posisi tersebut menempatkan Indonesia di bawah sejumlah negara pesaing utama seperti China yang menguasai lebih dari seperlima pasar, disusul Vietnam dan Bangladesh yang telah lebih dulu menjadi bagian penting dalam rantai pasok global industri fesyen.

Kondisi itu menunjukkan ruang ekspansi yang masih terbuka lebar. Di sisi lain, besarnya target peningkatan ekspor hingga sepuluh kali lipat menuntut peningkatan kapasitas produksi, efisiensi biaya, serta penguatan daya saing industri, bukan semata-mata bergantung pada insentif tarif.

Bagi industri dalam negeri, pasar Amerika Serikat memiliki arti strategis. Dari total ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia yang berada di kisaran USD12 miliar hingga USD13 miliar per tahun, sekitar sepertiganya ditujukan ke negara tersebut. Artinya, setiap perubahan kebijakan akses pasar ke AS akan berdampak langsung terhadap kinerja industri nasional.

Sektor ini juga merupakan salah satu industri padat karya terbesar. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 3,9 juta hingga 4 juta orang. Dengan karakteristik tersebut, terbukanya akses tarif nol persen dinilai relevan dalam menjaga keberlangsungan lapangan kerja, terutama di tengah tekanan utilisasi pabrik dan ketatnya persaingan dengan negara produsen lain di kawasan Asia.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait