Makro 05 Jun 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Syahrianto

APBN Mei 2026 Defisit Rp180,4 Triliun, Belanja Negara Melonjak 34,4 Persen

Defisit APBN hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun. Belanja negara tumbuh 34,4 persen, sementara pendapatan naik 19,1 persen.

Defisit APBN Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun atau 0,7 persen PDB. Belanja negara naik 34,4 persen dan pendapatan tumbuh 19,1 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN Mei 2026 defisit Rp180,4 Triliun atau setara 0,7 persen terhadap PDB. Foto: Harun Rasyid/KabarBursa.com
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN Mei 2026 defisit Rp180,4 Triliun atau setara 0,7 persen terhadap PDB. Foto: Harun Rasyid/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 tercatat masih mengalami defisit, yakni sebesar Rp180,4 triliun. Nilai defisit APBN tersebut setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, posisi defisit tersebut terjadi setelah belanja negara melampaui pendapatan negara dalam lima bulan pertama 2026. Adapun realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun.

"Sampai dengan Mei atau lima bulan pertama tahun ini defisitnya 0,7 persen," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jumat 5 Juni 2026.

Sementara itu, data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen terhadap target APBN.

Pendapatan negara hingga Mei 2026  tumbuh sebesar 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan pendapatan negara kali ini ditopang oleh penerimaan pajak sebesar Rp834,4 triliun atau 35,4 persen dari target, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp123,8 triliun atau 36,8 persen, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp226,4 triliun atau 49,3 persen dari target.

Sedangkan penerimaan hibah tercatat Rp400 miliar atau 67 persen dari target APBN.

Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu APBN 2026. Realisasi tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kemudian belanja negara sampai Mei 2026 tercatat sebesar Rp1.365,4 triliun. Nilai tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari target.

Belanja pemerintah pusat mencakup belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp517,7 triliun dan belanja non-K/L Rp541,6 triliun.

Sedangkan transfer ke daerah (TKD) hingga Mei 2026 mencapai Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target tahun ini. Meski APBN masih terjadi defisit, keseimbangan primer berada dalam posisi surplus dengan nilai sebesar Rp58,6 triliun.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat surplus Rp28 triliun. "Keseimbangan primer ini artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya," kata Purbaya.

Sebagai informasi, kenaikan surplus keseimbangan primer menunjukkan perbaikan ruang fiskal pemerintah dalam mengelola penerimaan dan belanja negara, di tengah upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait