Makro 23 Mar 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Aramco Pilih Jalur Yanbu Gantikan Hormuz, tapi Pasokan Minyak ke Asia Dipangkas

Gangguan Hormuz akibat konflik Iran membuat Aramco alihkan distribusi ke Yanbu, namun pasokan ke Asia tetap dipersempit.

Aramco alihkan pengiriman ke Yanbu akibat gangguan Hormuz, namun pasokan minyak ke Asia dipangkas dan berpotensi tekan harga energi global.

Fasilitas terminal minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, yang menjadi jalur alternatif distribusi minyak saat Selat Hormuz terganggu. Foto: Dok. Aramco
Fasilitas terminal minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, yang menjadi jalur alternatif distribusi minyak saat Selat Hormuz terganggu. Foto: Dok. Aramco

Daftar Isi

  1. 01 Jalur Alternatif Tak Sepenuhnya Aman
  2. 02 Dampak ke Neraca Energi Indonesia

KABARBURSA.COM — Ekspoetir minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco, dilaporkan kembali memangkas pengiriman minyak mentah ke pembeli di Asia untuk bulan April mendatang. Ini menjadi pemangkasan kedua dalam dua bulan terakhir setelah konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Dilansir dari Reuters, Senin, 23 Maret 2026, dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebutkan Aramco kini hanya memasok minyak jenis Arab Light yang dikirim melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu. Langkah ini membuat pasokan ke kilang-kilang di Asia semakin ketat, sekaligus membatasi kapasitas produksi bahan bakar olahan di kawasan tersebut.

Pembatasan ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada harga, tetapi juga langsung mengganggu rantai pasok energi global.

Data dari perusahaan analitik Kpler mencatat ekspor minyak Saudi sepanjang Maret 2026 berada di kisaran 4,355 juta barel per hari. Angka ini turun cukup dalam dibanding Februari yang mencapai 7,108 juta barel per hari.

Penurunan tersebut terjadi di tengah upaya Saudi untuk mengalihkan jalur distribusi minyaknya. Ketika Selat Hormuz menjadi rawan, Aramco mencoba meningkatkan pengiriman melalui Yanbu di Laut Merah sebagai jalur alternatif.

Volume pengiriman dari pelabuhan ini bahkan diperkirakan meningkat ke level tertinggi sepanjang Maret. Kilang terbesar di China, Sinopec, disebut akan memuat sekitar 24 juta barel minyak Saudi dari Yanbu pada periode tersebut.

Jalur Alternatif Tak Sepenuhnya Aman

Namun upaya diversifikasi jalur distribusi tidak sepenuhnya berjalan mulus. Aktivitas pengiriman di pelabuhan Yanbu sempat terganggu setelah sebuah drone jatuh di area kilang SAMREF milik Saudi Aramco.

Insiden itu menjadi pengingat bahwa risiko keamanan tidak hanya terjadi di Selat Hormuz, tetapi juga bisa merambat ke jalur alternatif yang selama ini dianggap lebih aman.

Bagi pasar Asia, pembatasan pasokan ini berpotensi menekan operasional kilang karena keterbatasan bahan baku. Produksi bahan bakar olahan bisa ikut tertahan, terutama di tengah permintaan energi yang masih tinggi.

Di sisi lain, langkah Aramco ini mempertegas bahwa konflik di Timur Tengah telah masuk ke fase yang berdampak langsung pada distribusi energi global. Ketika jalur utama terganggu dan jalur alternatif ikut menghadapi risiko, tekanan terhadap pasokan akan semakin terasa.

Situasi ini juga membuka ruang bagi volatilitas harga minyak, sekaligus menambah ketidakpastian bagi pasar energi dunia yang sejak awal tahun sudah bergerak dalam tekanan geopolitik.

Dampak ke Neraca Energi Indonesia

Pergeseran jalur distribusi minyak Saudi Aramco ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah tidak berhenti sebagai isu logistik global. Bagi Indonesia, perubahan itu bersentuhan langsung dengan struktur energi domestik yang sejak lama bertumpu pada impor.

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 580 ribu hingga 600 ribu barel per hari. Angka ini jauh di bawah kebutuhan yang telah mencapai sekitar 1,62 juta barel per hari. Selisihnya membentuk defisit mendekati 1 juta barel per hari, sebuah celah yang harus ditutup melalui impor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun bahan bakar jadi.

Data pemerintah menunjukkan impor minyak mentah Indonesia berada di sekitar 321 ribu barel per hari. Sementara itu, impor produk BBM mencapai 37,75 juta ton dengan nilai sekitar USD23,46 miliar atau setara Rp396,5 triliun. Ketergantungan ini menempatkan Indonesia sebagai net importir energi dalam skala besar.

Dalam konteks ini, gangguan distribusi global seperti yang terjadi di Selat Hormuz dan peralihan jalur ke Yanbu memiliki dampak yang berlapis. Ketika pasokan dari produsen utama seperti Saudi terganggu atau dialihkan, harga cenderung naik, sementara ketersediaan bisa mengetat.

Struktur impor Indonesia menambah kompleksitas. Secara teknis, sebagian besar BBM memang masuk dari Singapura dengan porsi sekitar 41,4 persen. Namun negara tersebut bukan produsen minyak, melainkan pusat pengolahan. Sumber minyak mentahnya tetap berasal dari kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Artinya, perubahan arus distribusi minyak global tetap merembes ke Indonesia, meski melalui jalur tidak langsung. Ketika Aramco mengalihkan pengiriman ke Yanbu untuk menghindari risiko di Hormuz, rantai pasok regional ikut berubah karena ada pemangkasan ke pusat-pusat kilang yang selama ini memasok Indonesia.

Dampak berikutnya terlihat pada fiskal negara. Nilai impor BBM yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun belum mencerminkan keseluruhan beban energi. Di luar itu, terdapat subsidi dan kompensasi yang harus ditanggung pemerintah untuk menjaga harga tetap stabil di dalam negeri.

Dalam kondisi harga minyak global yang meningkat, tekanan terhadap anggaran menjadi tak terhindarkan. Kenaikan harga impor akan memperbesar beban subsidi, sementara kebutuhan energi domestik tetap tinggi. Situasi ini juga berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah karena meningkatnya permintaan valuta asing untuk impor energi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait