KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat lebih dari USD1 per barel pada Senin, 22 Juni 2026, pascapertemuan awal yang diwarnai ketegangan antara pejabat AS dan Iran pada akhir pekan dalam kerangka kesepakatan damai sementara.
Seperti dilansir CNBC, data perdagangan menunjukkan kontrak berjangka minyak mentah Brent naik USD1,09, atau 1,35 persen, ke posisi USD81,66 per barel. Harga komoditas ini sempat menyentuh level tertinggi di posisi USD82,30 pada awal pembukaan perdagangan.
Perkembangan tersebut bergulir setelah Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan para pejabat Iran pada hari Minggu untuk memulai pembicaraan pertama di bawah kesepakatan damai sementara.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk memulai kembali perang dengan Iran, sementara pihak Teheran mengumumkan telah kembali menutup Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik tersebut berdampak pada pasar ekuitas global. Kontrak berjangka saham AS memerah pada hari Minggu, 21 Juni 2026 saat Wall Street memantau perkembangan terbaru dari negosiasi perang Iran, di samping menantikan rilis data inflasi yang menjadi acuan Federal Reserve (Fed).
Kontrak Berjangka Saham (Futures) AS Loyo
Kontrak berjangka S&P 500 tercatat turun 0,4 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq-100 melemah 0,6 persen. Di sisi lain, kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 183 poin atau 0,4 persen.
Koreksi pada pasar ekuitas berjangka ini terjadi setelah Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan baru ke Iran jika para pemimpin negara tersebut tidak segera menghentikan proksi mereka di Lebanon.
Pernyataan tersebut keluar tepat saat JD Vance melakukan negosiasi putaran pertama dengan pejabat Iran di Swiss, setelah rencana pembicaraan sebelumnya sempat dibatalkan.
Sebelumnya, tiga indeks utama Wall Street sempat pulih pada hari Kamis setelah mengalami aksi jual massal pada hari Rabu akibat ketidakpastian investor terhadap arah kebijakan moneter.
Pemulihan ekonomi yang dipimpin oleh kenaikan saham-saham sektor chip sukses membawa indeks menutup pekan perdagangan di zona hijau.
Indeks S&P 500 menguat hampir 1 persen, sekaligus membukukan pekan penguatan ke-11 dari 12 pekan terakhir. DJIA juga naik mendekati 1 persen dalam sepekan, sedangkan Nasdaq Composite melesat lebih dari 2 persen.
Seluruh aktivitas perdagangan di pasar saham AS sendiri sempat diliburkan pada hari Jumat demi memperingati hari libur Juneteenth.
Fokus pasar pada pekan ini akan tertuju pada rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) bulan Mei pada hari Kamis.
Data tersebut merupakan indikator inflasi utama yang digunakan oleh Fed. Berdasarkan survei ekonom oleh FactSet, PCE inti diproyeksikan meningkat dari bulan April, tidak termasuk harga pangan dan energi yang fluktuatif.
Menyusul hasil pertemuan Fed yang cenderung ketat (hawkish) pekan lalu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan kini dimajukan menjadi paling cepat pada bulan Oktober.
Para pelaku pasar kini memantau ketat setiap rilis data inflasi demi membaca sinyal pengetatan moneter dari bank sentral AS tersebut.
Kendati demikian, Kepala Riset Fundstrat Global Advisors Tom Lee menilai bahwa kondisi pasar secara umum masih berada di zona positif, meskipun ada potensi hambatan dari pembentukan satuan tugas di Fed hingga gangguan rantai pasok akibat penutupan Selat Hormuz.
“Kami tetap percaya bahwa pada akhir tahun ini akan ada perubahan kondisi pasar yang tiba-tiba, yang terasa sangat mirip dengan pasar bearish, tetapi kami tidak ingin berspekulasi bahwa ini telah mencapai puncaknya. Menurut saya kondisi saat ini masih kondusif untuk saham," kata Tom Lee dalam acara "Closing Bell" di CNBC. (*)