Makro 19 Dec 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

AS Pikirkan Sanksi Tambahan, Harga Minyak Dunia “Panas”

Harga minyak menguat seiring meningkatnya risiko geopolitik global, saat pasar menimbang potensi sanksi energi Rusia dan ancaman gangguan pasokan dari blokade tanker Venezuela.

Harga minyak dunia naik dipicu risiko sanksi Rusia dan blokade Venezuela, dengan Brent dan WTI menguat di tengah kekhawatiran pasokan global.

Ilustrasi blokade rig minyak Venezuela oleh pemerintah AS. Foto: AI untuk KabarBursa.
Ilustrasi blokade rig minyak Venezuela oleh pemerintah AS. Foto: AI untuk KabarBursa.

Daftar Isi

  1. 01 Harga Rendah Tekan Pasokan Minyak

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia terus memanas. Pada perdagangan Jumat pagi WIB, minyak mentah Brent ditutup naik 0,23 persen ke USD59,82 per barel. Begitu pula dengan West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 0,38 persen ke USD56,15 per barel.

Adanya laporan mengenai kemungkinan putaran baru sanksi Amerika Serikat terhadap sektor energi Rusia, menjadi penyebab kenaikan. Belum lagi soal meningkatnya ketegangan terkait blokade terhadap kapal tanker Venezuela, yang membuat pasar khawatir terhentinya arus ekspor minyak dari negara tersebut.

Terkait sanksi tambahan AS terhadap Rusia jika tidak tercapai kesepakatan damai dengan Ukraina, menjadi perhatian serius. Meskipun Gedung Putih hingga saat ini belum mengambil keputusan final, pasar bereaksi lebih cepat. 

Ancaman ini berpotensi memperketat pasokan glonal secara cepat, karena Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia.

Belum lagi soal blokade yang berlanjut dapat menghentikan pengiriman dan memaksa penghentian produksi di hulu. Penghentian ini bukan karena kendala pada kapasitas, melainkan logistik.

Kombinasi ini yang membuat sebagian pelaku pasar menilai harga minyak saat ini masih relatif rendah dibandingkan potensi gangguan yang ada. 

Dari sisi kuantitatif, potensi dampak Venezuela tetap signifikan. Sekitar 600 ribu barel per hari ekspor minyak negara tersebut berisiko terdampak, sebagian besar mengalir ke China. Namun, ekspor ke Amerika Serikat sekitar 160 ribu barel per hari diperkirakan tetap berjalan, mengingat kapal-kapal Chevron masih beroperasi berdasarkan izin sebelumnya. 

Ketidakjelasan mekanisme penegakan blokade AS juga menahan euforia. Meski penyitaan kapal tanker oleh Penjaga Pantai AS pekan lalu menjadi preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasar masih menunggu konsistensi tindakan lanjutan. 

Selama penegakan kebijakan belum sistematis dan masif, risiko pasokan cenderung dipersepsikan sebagai ancaman potensial, bukan realisasi penuh.

Dalam konteks global, minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total pasokan dunia. Namun, dalam kondisi pasar yang rapuh, gangguan kecil sekalipun dapat memicu pergeseran keseimbangan, terutama jika bertepatan dengan faktor lain seperti sanksi Rusia dan kebijakan OPEC+. 

Karena itu, meski kontribusinya relatif kecil, isu Venezuela tetap mendapat perhatian besar dari pelaku pasar.

Harga Rendah Tekan Pasokan Minyak

Sementara itu, faktor fundamental jangka menengah hingga panjang mulai membayangi reli harga. Analis Bank of America memperkirakan harga minyak yang lebih rendah ke depan justru akan menekan sisi pasokan. 

Jika harga WTI rata-rata berada di kisaran USD57 per barel pada 2026, produksi shale oil AS diproyeksikan turun sekitar 70 ribu barel per hari. Proyeksi ini menyiratkan bahwa level harga saat ini berada di zona kritis, cukup rendah untuk menahan investasi dan pertumbuhan produksi, namun belum cukup tinggi untuk memicu lonjakan suplai baru.

Dari perspektif perbandingan Brent dan WTI, penguatan WTI yang lebih besar secara persentase mencerminkan sensitivitas pasar Amerika terhadap isu Venezuela dan proyeksi produksi shale domestik. 

Brent, sebagai patokan global, bergerak lebih moderat karena pasar masih melihat suplai global secara keseluruhan belum sepenuhnya terganggu. Spread yang relatif stabil antara Brent dan WTI menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih diperlakukan sebagai faktor regional yang berpotensi meluas, bukan sebagai krisis pasokan global yang sudah terjadi.

Secara keseluruhan, performa minyak dunia saat ini mencerminkan fase akumulasi risiko. Harga bergerak naik, tetapi belum memasuki tren bullish yang kuat. Pasar menempatkan premi geopolitik secara bertahap, sembari menunggu kejelasan kebijakan sanksi Rusia, efektivitas blokade Venezuela, dan respons produksi global terhadap level harga yang relatif rendah. 

Dalam kondisi seperti ini, arah pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh realisasi gangguan pasokan, bukan sekadar ancaman atau wacana kebijakan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait