KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah agresif dalam merespons dinamika pasar keuangan global. Melalui serangkaian kebijakan, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) hanya dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Rinciannya, kenaikan sebesar 50 bps pada Mei, 25 bps pada 9 Juni, dan 25 bps pada 18 Juni.
Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, kebijakan kenaikan suku bunga acuan secara bertubi-tubi ini tergolong sangat agresif untuk standar normal Bank Indonesia. Namun, langkah tersebut dinilai belum sebanding dengan periode krisis ekstrem seperti tahun 1998.
"Bedanya, saat ini BI bukan sedang menghadapi krisis sistemik seperti 1998, tetapi sedang melakukan pre-emptive defense terhadap rupiah di tengah The Fed yang kembali hawkish, dolar menguat, dan investor asing yang masih meragukan risk premium Indonesia," tulis riset Kiwoom Kamis, 18 Juni 2026.
Lebih lanjut, Kiwoom menyoroti perubahan sinyal dari The Fed. Meskipun bank sentral Amerika Serikat tersebut baru saja menahan suku bunga, arah kebijakannya berubah menjadi lebih hawkish.
“Hal tersebut diperkuat dengan pidato perdana Gubernur Bank Sentral AS, Kevin Warsh, yang sejalan dengan sebagian pejabat lainnya dalam membuka ruang kenaikan suku bunga tahun ini,” lanjut laporan tersebut.
Dinamika ini membuat Bank Indonesia tidak memiliki banyak ruang untuk bersikap terlalu dovish di tengah kondisi nilai tukar Rupiah yang masih rentan.
Dampak ke Pasar Saham dan Rupiah
Menurut Kiwoom Sekuritas Indonesia, kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen merupakan sinyal bahwa BI memprioritaskan stabilitas rupiah, meskipun langkah ini berkonsekuensi pada membengkaknya biaya dana (cost of fund).
Dalam jangka pendek, kebijakan ini dipandang positif bagi rupiah karena memperlebar daya tarik yield aset dalam mata uang lokal dan menunjukkan upaya BI dalam meredam pelemahan kurs.
Pihak BI sendiri menyatakan bahwa keputusan ini ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menarik aliran masuk portofolio asing (foreign portfolio inflow).
Kendati demikian, dampak terhadap pasar saham dinilai lebih campuran. Kiwoom menilai stabilisasi Rupiah memang bisa menurunkan risk premium Indonesia dan menjadi sentimen positif bagi investor asing. Namun, kenaikan suku bunga di sisi lain akan menekan valuasi saham, meningkatkan cost of fund, serta berpotensi memperlambat tingkat konsumsi dan investasi.
Riset tersebut menegaskan bahwa kenaikan BI Rate ini lebih tepat disebut sebagai "obat stabilisasi" daripada solusi menyeluruh. BI dinilai mampu membeli waktu dan meredam tekanan terhadap rupiah, namun aliran masuk asing yang berkelanjutan tetap memerlukan dukungan dari kebijakan fiskal yang kredibel, efisiensi belanja pemerintah, komunikasi kebijakan yang lebih jelas, serta regulasi yang lebih terprediksi. Tanpa adanya dukungan tersebut, kenaikan BI Rate disebut hanya akan menjadi painkiller atau pereda nyeri jangka pendek.
Tekanan pada Sektor Sensitif Bunga
Era suku bunga tinggi memberikan tekanan nyata bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Kiwoom Sekuritas Indonesia membedah dampak kebijakan ini pada sejumlah sektor utama:
- Perbankan: Sektor ini dipandang masih relatif defensif, terutama bagi bank-bank besar. Hal ini disebabkan oleh kuatnya likuiditas, rasio dana murah (CASA) yang tinggi, dan pricing power yang dimiliki. Namun, Kiwoom tetap mengingatkan adanya risiko dari kenaikan cost of fund, perlambatan pertumbuhan kredit, serta potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL) jika tingkat suku bunga tinggi dipertahankan dalam jangka waktu lama.
- Properti dan Otomotif: Kedua sektor ini dinilai lebih rentan dibandingkan sektor perbankan. Aktivitas pembelian rumah dan kendaraan sangat bergantung pada fasilitas cicilan. Kenaikan bunga KPR dan kredit kendaraan bermotor diprediksi dapat menahan permintaan, terutama pada segmen kelas menengah.
- Telekomunikasi: Sektor ini dianggap relatif lebih defensif dari sisi permintaan karena layanan data telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Meski demikian, sektor telekomunikasi tetap terpapar dampak negatif dari tingginya biaya utang dan tekanan pada belanja modal (capital expenditure).
Menutup risetnya, Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa hingga akhir tahun, prospek sektor-sektor tersebut tidak serta-merta menjadi negatif secara keseluruhan. Investor diminta untuk lebih selektif dalam memilih instrumen investasi.
Saham-saham dari perusahaan dengan neraca keuangan (balance sheet) yang kuat, arus kas stabil, dan tingkat utang yang rendah dinilai jauh lebih aman di tengah ketidakpastian kebijakan moneter saat ini.(*)