Makro 16 Mar 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

BI: Utang Luar Negeri Indonesia Sentuh USD434,7 Miliar pada Januari 2026

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik

BI menyampaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 sebesar USD434,7 miliar atau secara tahunan tumbuh 1,7 persen year on year (yoy).

Ilustrasi rupiah sempat menyentuh angka Rp17 ribu. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi rupiah sempat menyentuh angka Rp17 ribu. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) menyampaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 sebesar USD434,7 miliar atau secara tahunan tumbuh 1,7 persen year on year (yoy). Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 1,8 persen (yoy).

"Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Senin, 15 Maret 2026.

Ramdan menyebut posisi ULN Pemerintah pada Januari 2026 tercatat sebesar USD216,3 miliar tumbuh 5,6 persen (yoy) dan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5 persen (yoy).

Menurutnya, perkembangan ULN pada Januari 2026 tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

"Seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,' kata Ramdan.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3 persen); Jasa Pendidikan (16,2 persen); Konstruksi (11,6 persen); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah," jelasnya.

Sementara itu ULN swasta tercatat sebesar USD193,0 miliar pada Januari 2026, menurun dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025 sebesar USD194,0 miliar.

Secara tahunan, kata Ramdan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7 persen (yoy) pada Januari 2026, lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,2 persen (yoy).

"Penurunan posisi ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations)," terang dia.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,1 persen terhadap total ULN swasta.

"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,2 persen terhadap total ULN swasta," pungkas Ramdan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait