KABARBURSA.COM — Harga Bitcoin kembali bergerak naik dan menembus level psikologis penting di atas USD81.000 atau sekitar Rp1,37 miliar. Namun reli kali ini tidak semata dipicu euforia pasar kripto, melainkan mulai ditopang sentimen kepastian regulasi di Amerika Serikat.
Pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, Bitcoin tercatat menguat 2,45 persen dalam 24 jam terakhir hingga menyentuh USD81.511 atau sekitar Rp1,38 miliar. Kenaikan ini melampaui pertumbuhan pasar kripto secara umum yang berada di kisaran 1,97 persen.
Pemicunya datang dari Washington. Rancangan aturan pro-kripto bernama CLARITY Act lolos dari U.S. Senate Banking Committee melalui pemungutan suara 15 berbanding 9 pada 14 Mei lalu. Regulasi ini dinilai penting karena berpotensi memberi batas yang lebih jelas soal pengawasan aset digital antara Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan Securities and Exchange Commission (SEC).
Selama bertahun-tahun, ketidakjelasan aturan menjadi salah satu alasan investor institusi cenderung berhati-hati masuk ke aset kripto.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai lonjakan Bitcoin kali ini tidak sepenuhnya lahir dari faktor teknikal. “Pasar melihat kemajuan CLARITY Act sebagai sinyal bahwa arah regulasi kripto di AS mulai bergerak ke fase yang lebih jelas,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut dia, kepastian aturan menjadi faktor penting bagi investor besar dalam menentukan eksposur terhadap aset digital.
“Selama ini ketidakpastian regulasi menjadi salah satu hambatan terbesar bagi investor institusional. Ketika ada perkembangan konkret, pelaku pasar langsung merespons dengan meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin,” katanya.
Namun regulasi bukan satu-satunya bahan bakar kenaikan harga.
Reli Bitcoin Didukung Tekanan Pasar Derivatif
Di balik lonjakan Bitcoin, pasar derivatif juga ikut mendorong percepatan kenaikan. Data menunjukkan open interest Bitcoin naik sekitar 37,14 persen hanya dalam 24 jam. Pada saat yang sama, posisi short senilai USD71,02 juta atau sekitar Rp1,2 triliun ikut terlikuidasi.
Kondisi tersebut memicu short squeeze, yakni situasi ketika pelaku pasar yang bertaruh harga turun terpaksa membeli kembali aset untuk menutup posisi rugi. Efeknya, tekanan beli meningkat dan harga naik lebih cepat.
“Ketika sentimen positif muncul di tengah posisi short yang terlalu padat, pasar bisa bergerak sangat cepat,” ujar Fyqieh.
Ia menjelaskan kenaikan Bitcoin bukan hanya berasal dari pembelian biasa (spot market), tetapi juga diperkuat mekanisme pasar derivatif. Meski momentum naik masih terbuka, pasar kini mulai memperhatikan area harga tertentu sebagai penentu arah berikutnya.
Secara teknikal, Bitcoin berada dekat rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar USD82.455 atau setara Rp1,39 miliar. Jika mampu bertahan dan menembus area itu, target berikutnya diperkirakan menuju USD85.102 atau sekitar Rp1,44 miliar.
Sebaliknya, tekanan jual berpotensi meningkat apabila Bitcoin kembali jatuh di bawah USD80.000 atau sekitar Rp1,35 miliar. “Level USD80.000 menjadi batas psikologis yang sangat penting,” kata Fyqieh.
Menurut dia, selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan masih terbuka. Namun volatilitas diperkirakan tetap tinggi karena posisi derivatif yang besar dapat mempercepat pergerakan ke dua arah.
Di luar faktor regulasi, pelaku pasar juga mencermati arus dana institusi. Produk ETF Bitcoin spot tercatat kembali mengalami aliran dana masuk setelah sebelumnya mengalami outflow. Kondisi ini sering dibaca sebagai sinyal investor besar mulai membangun posisi.
Pasar juga memantau pergerakan whale atau pemilik Bitcoin dalam jumlah besar. Data on-chain menunjukkan kelompok investor yang memegang 10 hingga 10.000 BTC mengakumulasi lebih dari 61.000 Bitcoin selama satu bulan terakhir.
Pola semacam ini kerap dianggap sebagai sinyal bahwa investor besar mulai melihat harga saat ini sebagai titik masuk sebelum potensi kenaikan berikutnya. “Apabila arus masuk ETF tetap berlanjut dan whale terus menambah kepemilikan, Bitcoin memiliki fondasi permintaan yang lebih kuat,” ujar Fyqieh.
Meski begitu, ia mengingatkan pasar masih membutuhkan konfirmasi tambahan, terutama dari perkembangan regulasi AS dan kemampuan harga menembus area resistensi di atas USD82.000.(*)