Makro 01 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

BPS Proyeksi Produksi Beras Maret–Mei Turun, Risiko Harga Pangan Menguat

BPS memproyeksi produksi beras Maret-Mei 2026 turun sekitar 11 persen, memicu potensi tekanan harga pangan nasional.

Produksi beras Maret-Mei 2026 diproyeksi turun 11 persen oleh BPS, berisiko mendorong kenaikan harga pangan dalam negeri.

Produksi beras Maret-Mei 2026 diproyeksi turun 11 persen oleh BPS, berisiko mendorong kenaikan harga pangan dalam negeri. Foto: Dok. YouTube BPS
Produksi beras Maret-Mei 2026 diproyeksi turun 11 persen oleh BPS, berisiko mendorong kenaikan harga pangan dalam negeri. Foto: Dok. YouTube BPS

Daftar Isi

  1. 01 Fokus Panen Raya di Jawa

KABARBURSA.COM – Tantangan besar membayangi sektor pangan nasional di tengah momentum Ramadan dan Lebaran 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan adanya penurunan signifikan pada luas panen dan produksi padi sepanjang periode Maret hingga Mei 2026.

Berdasarkan hasil amatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) per Februari 2026, potensi produksi beras nasional pada periode Maret-Mei 2026 diperkirakan hanya mencapai 11,91 juta ton. Angka ini merosot tajam sebesar 1,49 juta ton atau turun sekitar 11,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Potensi produksi padi pada Maret sampai dengan Mei 2026 diperkirakan sebesar 20,68 juta ton GKG (Gabah Kering Giling), atau mengalami penurunan sebesar 2,59 juta ton GKG, menurun 11,12 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Rabu, 1 April 2026.

Fokus Panen Raya di Jawa

Meskipun secara nasional mengalami penurunan, BPS mencatat bahwa aktivitas panen raya masih akan terkonsentrasi di lumbung-lumbung pangan utama, khususnya di Pulau Jawa. Jawa Timur dan Jawa Barat diprediksi menjadi penopang utama pasokan beras nasional dalam tiga bulan ke depan.

Di Jawa Timur, potensi panen besar tersebar di wilayah Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Nganjuk, dan Jember. Sementara di Jawa Barat, konsentrasi panen berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cianjur, Sukabumi, hingga Cirebon.

Namun, Ateng memberikan catatan bahwa angka potensi ini masih sangat bergantung pada kondisi alam. "Angka potensi ini masih dapat berubah, tergantung pada kondisi pertanaman, serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pergeseran waktu pelaksanaan panen oleh petani," tegasnya.

Penurunan potensi produksi ini menjadi sinyal kuning bagi pergerakan harga beras di tingkat konsumen. Data BPS menunjukkan bahwa meski ada aktivitas panen di beberapa wilayah pada bulan Februari dan Maret, harga beras belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan.

Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Maret 2026 tercatat naik 5,66 persen secara tahunan (year-on-year). Kondisi serupa terjadi di tingkat grosir dan eceran.

"Di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,95 persen secara month-to-month dan inflasi 4,81 persen secara year-on-year. Sedangkan di tingkat eceran terjadi inflasi 0,65 persen secara bulanan dan 3,71 persen secara tahunan," tambah Ateng.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 1,22 juta hektar, turun tipis 1,39 persen. Hal ini berdampak pada potensi produksi jagung pipilan kering (kadar air 14 persen) yang diperkirakan mencapai 6,96 juta ton, atau menurun 0,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan produksi di sektor tanaman pangan ini memerlukan perhatian ekstra dari pemerintah, mengingat tekanan inflasi dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) masih menjadi penyumbang utama inflasi nasional. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait