Makro 16 Sep 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Bursa Asia Bervariasi Dipengaruhi Data Ekonomi China

Bursa Asia Bervariasi Dipengaruhi Data Ekonomi China
Bursa Asia Bervariasi Dipengaruhi Data Ekonomi China

KABARBURSA.COM - Bursa Asia hari ini, 16 September 2024, dibuka bervariasi. Data ekonomi China memberikan pengaruh besar pada perdagangan bursa di Asia. Ada beberapa sentimen penting yang mendorong pergerakan pasar hari ini.

Pertama adalah data ekonomi dari China, termasuk penurunan dalam produksi pabrik, penjualan ritel, dan investasi bulan Agustus, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Tingkat pengangguran perkotaan juga meningkat, dan harga rumah turun dengan laju tercepat dalam sembilan tahun. Hal ini menyebabkan tekanan pada sentimen pasar, terutama di Hong Kong, yang terlihat dari penurunan kecil indeks Hang Seng berjangka.

Selanjutnya, pasar saham di China daratan, Jepang, dan Korea Selatan ditutup karena liburan, termasuk Festival Pertengahan Musim Gugur di China dan Hari Penghormatan kepada Orang Tua Lanjut Usia di Jepang. Ini mengurangi volume perdagangan di kawasan tersebut.

Topan yang kuat melanda Shanghai dan wilayah sekitarnya, menyebabkan pembatalan penerbangan dan mengganggu aktivitas ekonomi. Pasar mungkin mengalami tekanan tambahan di wilayah yang terkena dampak.

Selain itu, investor juga menunggu keputusan kebijakan suku bunga dari Federal Reserve AS pada rapat yang akan datang. Diperkirakan suku bunga akan dipotong untuk pertama kalinya sejak tahun 2020, yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar global.

Sementara, inflasi Jepang diperkirakan akan naik pada Agustus, yang mendukung Bank of Japan untuk mempertahankan kebijakan hawkish, memperkuat pandangan bahwa mereka tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.

Dan, pasar S&P/ASX 200 di Australia menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 0,44 persen pada pembukaan, di tengah sentimen yang lebih optimis.

Secara keseluruhan, sentimen negatif dari data ekonomi China menciptakan ketidakpastian di pasar Asia, terutama di Hong Kong. Di sisi lain, pasar di Australia berhasil mendapatkan sedikit keuntungan meskipun dengan latar belakang ekonomi global yang beragam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Karena China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, penurunan kinerja ekonomi di China dapat berdampak negatif terhadap pasar saham di Indonesia. Sektor-sektor yang bergantung pada ekspor ke China, seperti komoditas (batu bara, nikel, dan kelapa sawit), dapat mengalami tekanan karena kekhawatiran akan menurunnya permintaan dari China. Ini bisa menekan harga saham perusahaan komoditas di Indonesia.

Lalu, saham apa saja yang akan terpengaruh?

Di sektor komoditas, ada beberapa saham yang terpengaruh dari kondisi seperti ini, yaitu ADRO (PT Adaro Energy Tbk), BUMI (PT Bumi Resources Tbk), dan ANTM (PT Aneka Tambang Tbk).

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, 13 September 2024, saham ADRO ditutup menurun -4,68 persen atau setara dengan -180 poin, menjadi Rp3.670 dari pembukaan awal Rp3.840. Sementara, BUMI mengalami kenaikan signifikan 2,06 persen atau setara dengan 2 poin menjadi Rp99. Sedangkan ANTM ditutup turun -0,74 persen atau setara dengan -10 poin menjadi Rp1.335.

Sebagai salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia, Adaro sangat bergantung pada permintaan dari China. Penurunan ekonomi di China bisa menyebabkan berkurangnya permintaan batubara, sehingga berpengaruh pada kinerja saham ADRO.

Buruknya data ekonomi China juga akan berpengaruh pada sektor perkebunan di Indonesia. Pasalnya, China adalah salah satu pembeli utama minyak kelapa sawit. Diperkirakan ada dua emiten yang terdampak dari buruknya data ekonomi China, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).

Jika melihat pada perdagangan bursa, Jumat, 13 September 2024, kemarin, saham AALI ditutup dengan -1,55 persen atau turun -100 poin menjadi Rp6.350 dari sebelumnya Rp6.450. Sedangkan saham SMAR diperdagangkan dengan naik 0,49 persen atau setara 20 poin menjadi Rp4.130 dari sebelumnya Rp4.110.

Sektor lain yang terpengaruh adalah logistik dan transportasi, dengan emiten yang terdampak yaitu PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dan PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI).

Data harga rumah yang jatuh di China dapat menekan sentimen di sektor properti secara global, termasuk di Indonesia. CTRA mungkin mengalami dampak dari sentimen negatif ini, meskipun dampaknya lebih tidak langsung. Saham yang terdampak adalah PT Ciputra Development Tbk (CTRA), yang pada perdagangan akhir pekan kemarin ditutup -2,96 persen atau turun sebanyak -40 poin menjadi Rp1.310 dari sebelumnya Rp1.350.

Di sektor keuangan dan otomotif, dua bank besar (big banks) ikut terpengaruh yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). BBRI ditutup naik sebesar 2,42 persen atau setara dengan  +125 poin menjadi Rp5.300 di sesi terakhir perdagangan Jumat, 13 September 2024. Sementara, BMRI melemah 0,34 persen dan sahamnya ditutup Rp7.275.

Sementara PT Astra Internasional Tbk (ASII) melejit sebesar 1,00 persen atau naik 50 poin di penutupan perdagangan bursa, pekan kemarin dengan penjualan saham Rp5.075 per lembar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait