Makro 27 Feb 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Syahrianto

Capitalk Smart 2026, Dominasi Ritel Ubah Peta Kekuatan Pasar Modal

Lonjakan investor domestik hingga 9 juta mengubah struktur transaksi dan membuat pergerakan pasar makin sensitif.

BEI menyebut dominasi investor ritel mengubah struktur pasar modal. Jumlah investor saham tembus 9 juta jadi penopang ketahanan.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh menjadi pembicara dalam forum Capital Smart Investor 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026. Ia memaparkan pergeseran dominasi investor ritel yang mengubah struktur pasar modal domestik. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh menjadi pembicara dalam forum Capital Smart Investor 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026. Ia memaparkan pergeseran dominasi investor ritel yang mengubah struktur pasar modal domestik. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa

Daftar Isi

  1. 01 Dari Asing ke Ritel

KABARBURSA.COM – Gejolak pasar yang belakangan terasa di lantai bursa efek Indonesia (BEI) bukan semata soal sentimen jangka pendek. Di balik pergerakan yang tampak lebih “berisik”, struktur pasar modal Indonesia sebenarnya sedang mengalami perubahan mendasar. Basis investor domestik—khususnya ritel—kini menjadi penggerak utama transaksi harian.

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI) Irwan Abdalloh menyebut dinamika tersebut sebagai fase alami dalam proses pencarian keseimbangan baru. Ia hadir mewakili PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam forum Capitalk Smart Investor 2026 bertema Strategi Membangun Portofolio Hijau Berkelanjutan Berbasis Data yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Februari 2026.

“Kalau orang market tahu persis, pasar pasti ada kalanya gonjang-ganjing. Kalau pasar enggak gonjang-ganjing itu nggak bakal ambil posisi, ambil untung,” ujar Irwan.

Menurut dia, kondisi yang terlihat besar dalam beberapa waktu terakhir lebih disebabkan oleh bertemunya sejumlah momentum dalam waktu bersamaan. Secara fundamental, ia menilai tidak ada faktor yang mengganggu stabilitas jangka panjang.

Dalam bahasa ekonomi, situasi ini merupakan fase mencari equilibrium baru. Pergeseran tersebut tidak bisa dilepaskan dari fenomena saat pandemi Covid-19, ketika pasar mengalami anomali karena hampir semua instrumen investasi mencetak keuntungan. “Waktu Covid itu apapun dibeli untung. Sehingga Indonesia ketika Covid punya anomali sendiri. Sampai saat ini kita belum hit to growth jaman Covid,” katanya.

Dari Asing ke Ritel

Perubahan paling terasa terjadi pada komposisi pelaku pasar. Jika pada awal 2000-an investor domestik berada di bawah 40 persen, dalam lima tahun terakhir posisinya berbalik. Investor lokal kini mendominasi transaksi harian, sementara investor asing lebih banyak berada di sisi kepemilikan dan didominasi institusi.

“Retailnya dominan sekarang. Karena retailnya yang dominan, jadi ada goyang sedikit impactnya gede,” jelas Irwan.

Dominasi ritel membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek. Pergerakan harga bisa terlihat lebih cepat dan tajam karena basis investornya lebih aktif secara transaksi. Namun di sisi lain, kondisi ini mencerminkan meningkatnya partisipasi publik di pasar modal.

Jumlah investor saham yang kini mendekati 9 juta menjadi indikator perubahan tersebut. Angka ini melonjak jauh dibandingkan awal karier Irwan di bursa. “Dulu waktu saya masuk bursa itu nyampe 300 ribu saja susah. Sekarang sudah 9 juta,” kata dia.

Ledakan investor pascapandemi juga melahirkan karakter baru di pasar. Mayoritas berasal dari kalangan anak muda yang masuk dengan ekspektasi keuntungan cepat. Ketika kondisi pasar berubah, reaksi yang muncul menjadi lebih cepat dan terasa lebih besar. Untuk menjawab tantangan itu, BEI mengubah pendekatan literasi. Kampanye Yuk Nabung Saham dikembangkan menjadi Aku Bangga Jadi Investor, dengan strategi yang lebih sesuai dengan karakter generasi baru.

Di sisi lain, otoritas juga mulai menertibkan influencer yang menyebarkan informasi menyesatkan di pasar. “Hikmahnya sekarang influencer yang ngaco mulai diciduk. Itu bagus,” ujar Irwan.

BEI turut memperluas jaringan kantor perwakilan ke hampir seluruh provinsi serta mengembangkan klaster wilayah untuk mendorong pertumbuhan investor di luar Pulau Jawa. Konsep galeri investasi pun diperluas, tidak hanya di kampus tetapi juga di komunitas dan berbagai institusi yang bekerja sama dengan perusahaan sekuritas.

Bagi Irwan, perubahan struktur ini justru menjadi sinyal positif bagi ketahanan pasar modal Indonesia. Basis investor domestik yang kuat membuat pasar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arus dana asing dalam menjaga likuiditas. Ia mengajak generasi muda untuk melihat volatilitas sebagai bagian dari proses pendewasaan pasar, bukan sebagai ancaman.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait