KABARBURSA.COM — Di tengah perang dagang dan rivalitas geopolitik yang terus memanas, hubungan ekonomi China dan Amerika Serikat ternyata belum benar-benar menjauh. Bisnis kedua negara justru masih saling membutuhkan.
Ekonom dan pelaku usaha menilai keterkaitan ekonomi China dan Amerika sudah terlalu dalam untuk dipisahkan begitu saja. Hubungan itu tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga menyangkut rantai pasok, investasi, teknologi, hingga riset pengembangan.
Presiden US-China Business Council, Sean Stein, bahkan menepis anggapan bahwa perusahaan Amerika mulai meninggalkan China. “Perusahaan Amerika masih terus berinvestasi. Perusahaan Amerika tidak pergi ke mana-mana,” kata dia, dikutip dari China Daily, Kamis, 14 Mei 2026.
Menurut dia, China kini tidak lagi sekadar pasar tujuan penjualan, melainkan sudah menjadi platform bisnis global bagi banyak perusahaan Amerika. Mulai dari akses konsumen, kemitraan industri, hingga pusat riset dan pengembangan kini banyak terhubung dengan ekosistem China.
Perubahan ini terlihat jelas dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu perusahaan asing datang ke China hanya untuk produksi murah, kini banyak perusahaan justru menempatkan fasilitas riset strategis di sana.
“Dulu tidak ada yang datang ke China untuk riset dan pengembangan. Sekarang perusahaan-perusahaan terbaik justru menjalankan sebagian riset terpenting mereka di sana,” katanya.
Data Kementerian Perdagangan China memperlihatkan tren itu. Investasi asing langsung di sektor teknologi tinggi naik 30,7 persen secara tahunan menjadi 102,73 miliar yuan atau sekitar USD15,12 miliar (Rp255,53 triliun) pada kuartal pertama 2026.
Angka tersebut membuat sektor teknologi tinggi menyumbang lebih dari 41 persen total investasi asing di China.
Pandangan serupa datang dari Kamar Dagang Amerika di Shanghai. Presiden lembaga itu, Eric Zheng, menilai perusahaan Amerika justru akan kehilangan daya saing global jika menjauh dari China. “Perusahaan Amerika yang bisa bertahan dan berkembang di China akan lebih siap bersaing di banyak pasar dunia,” katanya.
Bagi banyak perusahaan global, China dinilai bukan hanya pusat manufaktur, tetapi juga tempat membangun kemampuan bisnis dan teknologi yang nantinya dapat diterapkan di negara lain.
Karena itu, stabilitas hubungan ekonomi kedua negara dianggap penting, bukan hanya bagi China dan Amerika, tetapi juga bagi ekonomi global.
Dana Moneter Internasional mencatat gabungan produk domestik bruto nominal China dan Amerika Serikat mencapai hampir 45 persen ekonomi dunia pada 2025. Ketika hubungan perdagangan keduanya terganggu, efeknya langsung terasa secara global.
Laporan McKinsey Global Institute bahkan menunjukkan perlambatan perdagangan China-Amerika menekan pertumbuhan perdagangan dunia sekitar 10 persen sepanjang tahun lalu.
Di sisi lain, para analis menilai gagasan “decoupling” atau pemisahan total ekonomi kedua negara lebih mudah diucapkan ketimbang dijalankan.
Direktur Institute of World Economics and Politics di Chinese Academy of Social Sciences, Liao Fan, mengatakan keterkaitan ekonomi kedua negara sudah terbentuk selama puluhan tahun melalui investasi dan integrasi rantai pasok.
“Anda tidak bisa memisahkan dua ekonomi yang sudah saling terhubung selama puluhan tahun. Biaya pemisahannya akan dihitung dalam triliunan dolar dan jutaan lapangan kerja “ kata Fan.
Meski begitu, hubungan keduanya tetap dibayangi ketegangan. Sejumlah pembatasan perdagangan dan teknologi dari Amerika Serikat terhadap China masih menjadi sumber friksi.
Peneliti senior Center for China and Globalization, He Weiwen, menilai hubungan ekonomi yang benar-benar seimbang baru bisa tercapai jika hambatan perdagangan mulai dilonggarkan.
Dalam situasi saat ini, persaingan China dan Amerika tampaknya belum akan berakhir. Namun bagi dunia usaha, kepentingan bisnis dan rantai pasok global tampaknya masih lebih kuat dibanding dorongan untuk benar-benar berpisah.(*)