Makro 24 Jan 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

China Tak Banyak Bicara di Davos, Menakar Peluang Investasi di Tengah Riuh Barat

Pendekatan senyap China di WEF Davos 2026 kontras dengan Amerika Serikat, membuka peluang investasi baru di tengah ketegangan geopolitik Barat.

China tampil low profile di WEF Davos 2026, menakar peluang investasi saat Barat diramaikan ketegangan geopolitik dan ekonomi global.

Wakil Perdana Menteri He Lifeng menyampaikan pidato pada Selasa dalam Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss. Pertemuan WEF tersebut berlangsung hingga Jumat. Foto: Dok. China Daily
Wakil Perdana Menteri He Lifeng menyampaikan pidato pada Selasa dalam Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss. Pertemuan WEF tersebut berlangsung hingga Jumat. Foto: Dok. China Daily

KABARBURSA.COM — Alih-alih tampil dominan dan penuh gebrakan, China justru memilih jalan sunyi di World Economic Forum (WEF) Davos tahun ini. Sikap itu kontras dengan Amerika Serikat yang datang membawa ketegangan geopolitik, terutama dalam relasinya dengan Eropa.

Sejumlah pemimpin bisnis global menilai, pendekatan rendah profil Beijing justru berpotensi menjadi keuntungan strategis—terutama ketika pemerintahan Donald Trump kembali berhadapan keras dengan Uni Eropa, termasuk soal Greenland.

Namun, di balik peluang tersebut, jalan China untuk benar-benar menjadi mitra terpercaya bagi Uni Eropa tidak sepenuhnya mulus. Tantangan struktural dan hambatan implementasi masih mengadang, terutama saat blok beranggotakan 27 negara itu berupaya mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat.

Seorang pemimpin bisnis global menggambarkan strategi Beijing dengan metafora klasik. China, katanya, tengah “mengendalikan dinamika lewat ketenangan”—sebuah rujukan ke ajaran The Art of War, di mana kemenangan diraih dengan menunggu lawan kelelahan di medan pertempuran.

Tahun ini, Beijing mengutus Wakil Perdana Menteri He Lifeng ke Davos. Pidatonya singkat, jauh lebih ringkas dibandingkan pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, pesan yang disampaikan cukup jelas bahwa China menyatakan kesediaannya membeli lebih banyak barang dan jasa dari perusahaan asing, alih-alih terus mengejar surplus perdagangan.

Meski demikian, persoalan lama belum sepenuhnya terpecahkan. Seorang eksekutif senior bank global mengingatkan bahwa China masih mengekspor kelebihan kapasitas industrinya ke pasar luar negeri—terutama dari sektor kendaraan listrik dan sejumlah industri lain. “Tidak ada solusi instan untuk masalah ini,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Sabtu, 24 Januari 2026.

Perbedaan gaya juga terlihat dari cara China dan Amerika menjamu pelaku usaha. Jika Trump menggelar resepsi besar dengan puluhan pemimpin bisnis dunia, maka pertemuan China dengan para eksekutif Barat berlangsung jauh lebih intim. Pesannya pun sederhana, “Kami terbuka untuk berbisnis,” kata seorang bankir senior yang mengetahui jalannya pertemuan tersebut.

Seorang pendiri perusahaan global bahkan menilai strategi ini bisa menjadi senjata pamungkas Beijing. “(China akan) hanya menonton semua kekacauan yang terjadi di seluruh dunia, dan mengarahkan jalannya sendiri—China akan menang,” katanya kepada Reuters di Davos.

Nada serupa datang dari Kanada. Perdana Menteri Mark Carney menyebut China sebagai “mitra yang andal dan dapat diprediksi” dalam kunjungan terbarunya. Di Davos, ia bahkan mendorong para pemimpin Uni Eropa untuk mulai melirik investasi dari China.

Hubungan bisnis lintas benua juga mulai dihangatkan kembali. Inggris dan China disebut sedang berupaya menghidupkan kembali dialog bisnis era Golden Era, bertepatan dengan rencana kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke Beijing pekan depan.

Sementara itu, Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo juga dijadwalkan menyambangi China, membawa delegasi bisnis dari sektor sumber daya alam, manufaktur, hingga pangan.

Seorang eksekutif senior perusahaan keuangan multinasional menilai Beijing belajar dari kesalahan masa lalu. Tiga tahun lalu, serangkaian pengetatan terhadap sektor properti, teknologi, dan pendidikan sempat meruntuhkan kepercayaan pasar. Kini, China berupaya tampil lebih stabil dan dapat diprediksi—sementara Amerika Serikat justru dinilai semakin sulit ditebak.

Namun, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Minimnya kehadiran China di jalan utama Davos tahun ini terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi domestik yang menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir. Sementara Beijing terus menggulirkan pesan soal dorongan konsumsi, dampak kebijakan itu belum sepenuhnya terasa di lapangan.

Di Davos, China memang tidak banyak bicara. Tapi justru dalam diam itulah, banyak pihak membaca arah strategi global Beijing ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait