Makro 06 Mar 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

China Turun Tangan Lobi Iran agar Buka Selat Hormuz

Beijing menekan Teheran agar kapal minyak dan LNG tetap bisa melintas di Selat Hormuz di tengah perang AS–Israel dengan Iran.

China melobi Iran agar membuka jalur energi di Selat Hormuz saat konflik memicu ancaman gangguan pasokan minyak dunia.

China melobi Iran agar membuka jalur energi di Selat Hormuz saat konflik memicu ancaman gangguan pasokan minyak dunia. Foto: Xinhua
China melobi Iran agar membuka jalur energi di Selat Hormuz saat konflik memicu ancaman gangguan pasokan minyak dunia. Foto: Xinhua

Daftar Isi

  1. 01 Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
  2. 02 Harga Minyak Langsung Melonjak

KABARBURSA.COM — Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak hanya mengguncang Timur Tengah. Konflik yang kini memasuki hari keenam itu mulai mengguncang pasar energi global setelah jalur pelayaran vital Selat Hormuz hampir lumpuh.

Di tengah situasi tersebut, China tengah sibuk berdiplomasi. Beijing dilaporkan sedang melakukan pembicaraan dengan Iran agar kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair milik China maupun Qatar dapat melintas dengan aman melalui selat tersebut.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 6 Maret 2026, tiga sumber diplomatik mengatakan kepada Reuters bahwa China mendesak Teheran untuk membuka jalur bagi kapal-kapal energi tertentu agar pasokan global tidak benar-benar terputus.

Langkah itu menunjukkan betapa krusialnya Selat Hormuz bagi ekonomi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur sempit tersebut setiap hari. Ketika perang membuat pelayaran nyaris berhenti, pasar energi global langsung bergetar.

China termasuk negara yang paling bergantung pada jalur ini. Sekitar 45 persen impor minyak negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu berasal dari kawasan yang dilalui Selat Hormuz.

Sumber diplomatik menyebut Beijing tidak senang dengan langkah Iran yang memblokir lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Karena itu, pemerintah China menekan Teheran agar setidaknya memberikan jaminan keselamatan bagi kapal-kapal tertentu.

Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz turun drastis sejak konflik pecah.

Pada 1 Maret, sehari setelah permusuhan dimulai, hanya empat kapal tanker minyak yang tercatat melintasi selat itu. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 24 kapal per hari sejak Januari, menurut data perusahaan pelacak kapal Vortexa.

Sementara itu sekitar 300 kapal tanker minyak masih terjebak di dalam kawasan Selat Hormuz. Data tersebut berasal dari Vortexa dan pelacak kapal Kpler. Beberapa kapal tetap mencoba melintas, tetapi jumlahnya sangat terbatas.

Data pelayaran menunjukkan sebuah kapal bernama Iron Maiden berhasil melewati selat pada malam hari setelah mengubah sinyal identifikasinya menjadi “China-owner”. Namun pergerakan kapal tunggal seperti itu belum cukup untuk menenangkan pasar global.

Harga Minyak Langsung Melonjak

Ketegangan di Selat Hormuz langsung tercermin pada harga energi dunia. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 15 persen sejak konflik dimulai. Lonjakan tersebut dipicu oleh gangguan produksi serta serangan Iran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.

Teheran juga menyerang kapal-kapal yang melintasi selat, sehingga memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

Dampaknya tidak hanya terasa di Timur Tengah. Serangan rudal Iran bahkan dilaporkan mencapai wilayah yang lebih jauh seperti Siprus, Azerbaijan, dan Turki. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di pasar global dan membuat banyak negara memperingatkan potensi lonjakan inflasi.

Meski lalu lintas pelayaran nyaris terhenti, beberapa kapal masih diperbolehkan melintas. Veteran industri gula Timur Tengah Mike McDougall mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah eksekutif industri gula di kawasan tersebut melaporkan kapal yang masih lewat sebagian besar dimiliki oleh China atau Iran.

Jamal Al-Ghurair, direktur pelaksana perusahaan Al Khaleej Sugar yang berbasis di Dubai, juga mengatakan sebagian kapal yang membawa gula masih diizinkan melewati selat, sementara kapal lain tidak. Namun ia tidak menjelaskan secara rinci kriteria kapal yang diperbolehkan melintas.

Pemerintah Iran sebelumnya menyatakan bahwa kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, atau sekutu mereka tidak akan diizinkan melintas di Selat Hormuz. Pernyataan itu tidak menyebutkan secara khusus posisi China.

Hal inilah yang diduga menjadi celah diplomasi yang kini sedang dimanfaatkan Beijing. Dengan hubungan yang relatif baik dengan Teheran, China mencoba memastikan kapal energinya tetap bisa melewati jalur vital tersebut.

Bagi pasar global, nasib Selat Hormuz kini menjadi penentu arah harga energi. Selama konflik masih berlangsung, setiap kapal yang berhasil melintas atau terhenti di jalur ini bisa langsung menggerakkan pasar minyak dunia.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait