Makro 07 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

DAAZ Naik 7,60 Persen, Asing Terus Borong: Koleksi atau Jual?

DAAZ kembali mencuri perhatian setelah melonjak 7,60 persen ke level 1.840 dengan dukungan arus dana asing yang tetap positif. Namun di balik euforia tersebut, secara teknikal saham ini mulai mendekati area rawan koreksi.

DAAZ melonjak 7,60 persen dengan dukungan net foreign buy. Simak analisis teknikal, sinyal asing, dan strategi sell on strength terbaru.

DAAZ ditutup di level 1.840 atau melonjak 130 poin setara 7,60 persen. (Foto: dok DAAZ)
DAAZ ditutup di level 1.840 atau melonjak 130 poin setara 7,60 persen. (Foto: dok DAAZ)

Daftar Isi

  1. 01 Tekanan Masih Kuat
  2. 02 Perhatikan Area 1.930-2.070

KABARBURSA.COM – Selama enam hari terakhir saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) berada di zona hijau. Tidak hanya itu, asing gencar masuk hingga mencatatkan reli yang sangat tajam.

Pada perdagangan terakhir, Jumat, 5 Juni 2026, DAAZ ditutup di level 1.840 atau melonjak 130 poin setara 7,60 persen. Kenaikan ini memperpanjang tren positif yang sudah berlangsung sejak akhir Mei, ketika saham ini bergerak dari kisaran 1.475 hingga kini berhasil menembus area 1.800.

Kenaikan tersebut bukan sekadar pantulan sesaat. Nilai transaksi mencapai Rp3,51 miliar dengan volume lebih dari 19 ribu lot. Sementara, aktivitas investor asing kembali menunjukkan akumulasi yang cukup solid.

Data perdagangan memperlihatkan Foreign Buy mencapai sekitar Rp1,22 miliar, jauh lebih besar dibandingkan Foreign Sell yang hanya Rp524,66 juta. Dengan demikian, DAAZ kembali membukukan net foreign buy sekitar Rp696 juta.

Ini menjadi hari positif kedua secara beruntun setelah sehari sebelumnya investor asing memang sempat mencatatkan net sell Rp221 juta. Jika ditarik lebih panjang, pola yang muncul justru menunjukkan akumulasi asing yang masih cukup konsisten.

Pada 26 Mei, net foreign buy mencapai Rp1,89 miliar, disusul Rp1,67 miliar pada 29 Mei, kemudian Rp760 juta pada 2 Juni, Rp865 juta pada 3 Juni, dan kembali positif Rp696 juta pada perdagangan terakhir.

Rangkaian data tersebut memberikan sinyal bahwa investor asing masih melihat peluang pada saham ini. Arus dana yang terus masuk biasanya menjadi bahan bakar yang mampu menjaga momentum kenaikan harga dalam jangka pendek.

Tekanan Masih Kuat

Tapi, tetap ada hal yang tidak boleh diabaikan. Secara teknikal, kenaikan DAAZ mulai menghadapi tantangan serius. Harga memang berhasil melesat, tetapi penguatannya masih tertahan oleh indikator Moving Average 20 (MA20), yang selama ini menjadi area resistance dinamis.

Maksudnya, pembeli memang sedang menguasai pasar, tetapi belum berhasil menembus penghalang yang dapat mengonfirmasi perubahan tren menjadi lebih kuat.

Lebih jauh lagi, struktur gelombang teknikal memperkirakan DAAZ saat ini sedang berada pada bagian dari wave 5 dari wave (C).

Dalam teori Elliott Wave, wave 5 sering kali menjadi fase terakhir dari sebuah tren naik sebelum memasuki periode koreksi yang lebih dalam. Fase ini biasanya ditandai oleh optimisme yang tinggi, kenaikan harga yang cepat, dan semakin banyak investor yang mulai mengejar momentum.

Ironisnya, kondisi seperti itulah yang sering menjadi awal munculnya aksi distribusi oleh pelaku pasar yang sudah lebih dahulu memperoleh keuntungan.

Karena itu, meskipun sinyal dari arus dana asing masih positif, investor tetap perlu menjaga disiplin dalam mengelola posisi. Strategi yang lebih menarik saat ini bukan mengejar kenaikan harga di atas level penutupan, melainkan memanfaatkan momentum penguatan untuk melakukan realisasi keuntungan secara bertahap.

Perhatikan Area 1.930-2.070

Area 1.930 hingga 2.070 menjadi zona yang layak diperhatikan sebagai area sell on strength. Jika harga berhasil bergerak menuju rentang tersebut, investor dapat mulai mengurangi sebagian kepemilikan sambil tetap mempertahankan porsi tertentu apabila momentum positif masih berlanjut.

Pendekatan bertahap ini menjadi penting karena peluang kenaikan jangka pendek memang masih terbuka selama arus dana asing tetap positif. Namun, potensi koreksi juga semakin besar mengingat posisi harga sudah berada di fase akhir dari siklus penguatan.

Bahkan dalam skenario teknikal yang lebih konservatif, DAAZ masih memiliki risiko kembali bergerak turun menuju rentang 860 hingga 1.135 apabila fase koreksi benar-benar dimulai.

Perbedaan yang sangat jauh antara harga saat ini dan potensi area koreksi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap reli yang terlalu cepat hampir selalu diikuti oleh volatilitas yang tinggi.

Dengan kata lain, sinyal yang diberikan DAAZ saat ini memang masih positif. Investor asing masih masuk, volume pembelian masih dominan, dan momentum belum sepenuhnya hilang.

Namun pasar juga mengirimkan pesan lain yang tidak kalah penting, bahwa kenaikan yang terlalu cepat sering kali menjadi saat terbaik untuk mulai mengunci keuntungan, bukan justru menambah risiko dengan mengejar harga.

Bagi investor yang sudah memiliki posisi di level bawah, strategi paling rasional adalah menikmati tren sambil disiplin melakukan profit taking bertahap di kisaran 1.930 hingga 2.070. Sementara bagi investor yang baru ingin masuk, kesabaran justru menjadi aset yang lebih berharga dibandingkan mengikuti euforia yang sedang berlangsung.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait