Makro 01 Mar 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Dampak Serangan ke Iran Masih Teka-teki, Harga Minyak Bersiap Bergerak Liar Pekan ini

Konflik AS–Israel dan Iran memicu ketidakpastian pasokan, Selat Hormuz jadi kunci arah harga minyak dan inflasi energi global.

Harga minyak berpotensi melonjak usai serangan ke Iran. Pasar menunggu dampak ke Selat Hormuz dan ekspor energi global.

Harga minyak berpotensi melonjak usai serangan ke Iran. Pasar menunggu dampak ke Selat Hormuz dan ekspor energi global. Foto: SCMP
Harga minyak berpotensi melonjak usai serangan ke Iran. Pasar menunggu dampak ke Selat Hormuz dan ekspor energi global. Foto: SCMP

Daftar Isi

  1. 01 Peran Ekspor Iran dan Ketergantungan China
  2. 02 Skenario Kenaikan Harga

KABARBURSA.COM — Pasar minyak yang tutup selama akhir pekan lalu memberi jeda sejenak bagi pelaku energi global. Namun ketika perdagangan dibuka kembali, harga diperkirakan tidak akan bergerak tenang. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran baru baru ini memunculkan ketidakpastian baru terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari AP, sejumlah skenario sebelumnya memperkirakan lonjakan harga hanya berlangsung singkat bila serangan tidak menyentuh jalur distribusi minyak atau fasilitas utama seperti pipa Iran dan terminal ekspor di Pulau Kharg. Dalam kondisi itu, kenaikan harga lebih didorong sentimen ketimbang gangguan riil pada suplai.

Situasi akan berbeda bila infrastruktur energi atau lalu lintas kapal tanker terganggu, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Risiko pada titik ini dinilai sebagai faktor yang dapat memicu kenaikan harga lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Harga minyak sebenarnya sudah bergerak naik sebelum serangan terjadi. Minyak mentah Brent pada penutupan Jumat pekan lalu berada di level USD72,87 per barel atau sekitar Rp1,22 juta per barel, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Peran Ekspor Iran dan Ketergantungan China

Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari. Sebagian besar mengalir ke China, terutama ke kilang swasta yang tidak terlalu terpengaruh oleh sanksi Amerika Serikat. Bila aliran tersebut terganggu, pembeli di China akan mencari pasokan pengganti di pasar global. 

Perpindahan sumber pasokan itu berpotensi mendorong harga naik karena meningkatkan persaingan di pasar internasional.

Di sisi lain, Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari melalui jalur ini. Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab mengirimkan sebagian besar ekspor mereka lewat perairan tersebut.

Meski demikian, sejumlah analis menilai Iran tidak memiliki insentif untuk menutup selat itu. Langkah tersebut justru akan memutus jalur ekspor mereka sendiri dan merugikan China sebagai pembeli utama.

Skenario Kenaikan Harga

Dalam skenario konflik terbatas yang hanya menyasar program nuklir dan Garda Revolusi tanpa perubahan rezim atau perang terbuka, kenaikan harga diperkirakan berada di kisaran USD5 hingga USD10 per barel atau sekitar Rp84.250 hingga Rp168.500. Lonjakan tersebut lebih dipicu oleh faktor kekhawatiran pasar.

Namun skenario berbeda muncul bila konflik meluas dan mengganggu lalu lintas kapal tanker. Harga minyak berpotensi melampaui USD90 per barel atau sekitar Rp1,52 juta. Dampaknya akan terasa hingga ke harga bahan bakar di Amerika Serikat yang bisa melonjak jauh di atas USD3 per galon atau sekitar Rp50.550 per galon. Pekan lalu harga rata-rata bensin di negara itu masih berada di level USD2,98 per galon atau sekitar Rp50.213.

Dengan berbagai kemungkinan yang masih terbuka, pelaku pasar energi kini berada dalam fase menunggu. Pergerakan harga pada pekan ini akan menjadi indikator apakah konflik hanya memicu reaksi jangka pendek atau benar-benar mengganggu rantai pasok global.

Ketidakpastian itu membuat minyak kembali menjadi barometer utama situasi geopolitik. Selama jalur distribusi tetap aman, lonjakan harga cenderung terbatas. Namun bila gangguan terjadi di Selat Hormuz atau fasilitas ekspor utama, pasar energi berpotensi memasuki fase tekanan yang lebih panjang dan memicu efek berantai terhadap inflasi serta biaya energi di berbagai negara.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait