Makro 27 Nov 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Danantara dan Tantangan Besar: Merger Emiten BUMN Karya Tersandera Utang

Tumpukan kewajiban Waskita Karya Tbk (WSKT), Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Tbk (PTPP), dan Adhi Karya Tbk (ADHI) masih tergolong raksasa

Danantara Indonesia menguraikan langkah-langkah strategis menuju merger BUMN Karya yang dibidik tuntas pada kuartal I-2026

Ilustrasi Kantor Danantara. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Kantor Danantara. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Danantara Indonesia menguraikan langkah-langkah strategis menuju merger BUMN Karya yang dibidik tuntas pada kuartal I-2026, di tengah tekanan finansial berat yang terus membayangi konsolidasi para emiten konstruksi pelat merah.

Tumpukan kewajiban Waskita Karya Tbk (WSKT), Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Tbk (PTPP), dan Adhi Karya Tbk (ADHI) masih tergolong raksasa hingga 30 September 2025.

Waskita menggendong total utang Rp67,55 triliun dengan ekuitas yang hanya Rp4,33 triliun. WIKA mencatat liabilitas Rp48,44 triliun dengan ekuitas Rp8,57 triliun. PTPP pun belum keluar dari tekanan dengan utang Rp40,22 triliun dan ekuitas Rp15,29 triliun. Adhi Karya tak berbeda jauh, menanggung utang Rp23,92 triliun dengan ekuitas Rp9,70 triliun.

Di luar beban finansial yang demikian berat, tata kelola bisnis BUMN Karya ikut menjadi sorotan publik. Banyak pihak menilai mereka tak lagi fokus pada bisnis inti—akibatnya aset terbengkalai, divestasi dipaksakan, inefisiensi menumpuk, hingga terjadi kanibalisasi antarperusahaan.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, tak menampik karut-marut tersebut. Ia mengakui persoalan yang menggelayuti BUMN Karya teramat kompleks, terutama terkait restrukturisasi utang.

“Problem keuangan di perusahaan karya ini cukup dalam. Kita harus terbuka kepada publik,” ujar Dony.

Masalah-masalah itulah yang ingin dibenahi Danantara. Tahapannya jelas: pertama, merampungkan restrukturisasi utang, termasuk pencatatan impairment; kedua, melakukan revaluasi aset agar mencerminkan nilai buku; dan ketiga, mengeksekusi merger dengan skenario paling optimal.

Salah satu skenario yang sempat mencuat adalah penggabungan Waskita dengan Hutama Karya, WIKA bersama PTPP, serta Adhi Karya sebagai induk bagi subholding Nindya Karya dan Brantas Abipraya. Pada akhirnya, Danantara ingin menyisakan tiga BUMN Karya yang benar-benar solid.
Dony menegaskan belum ada keputusan final, karena proses kajian masih berlangsung. Namun satu hal sudah pasti: konsolidasi akan terjadi.

“Mergernya pasti. Kami ingin membuat perusahaan-perusahaan karya ini jauh lebih kuat ke depan. Itu yang sedang kami kaji. Ada beberapa opsi,” tuturnya.
Karena proses tersebut membutuhkan pendalaman lebih lanjut, Danantara melanjutkan inisiatif merger hingga tahun depan bersamaan dengan pembenahan finansial dan restrukturisasi utang.

“Jadi kami carry over ke tahun depan. Untuk BUMN Karya tidak selesai tahun ini. Kuartal pertama kami akan lakukan merger,” pungkas Dony.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait