Makro 14 Jul 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Di Tengah Lonjakan Produksi Saudi, Permintaan Global Mulai Lesu

Produksi minyak Saudi melonjak, tapi permintaan dari China, Jepang, dan AS justru melemah. Pasar minyak global diambang oversupply tahun ini.

Pasar minyak dunia dibayangi surplus pasokan usai Saudi genjot ekspor, sementara permintaan global mulai melemah di paruh kedua 2025.

Pasar minyak dunia dibayangi surplus pasokan usai Saudi genjot ekspor, sementara permintaan global mulai melemah di paruh kedua 2025. Foto: Egypt Oil & Gas Group.
Pasar minyak dunia dibayangi surplus pasokan usai Saudi genjot ekspor, sementara permintaan global mulai melemah di paruh kedua 2025. Foto: Egypt Oil & Gas Group.

Daftar Isi

  1. 01 Produksi Saudi Melejit, Tapi Banyak yang “Dibakar”

KABARBURSA.COM – Sepanjang tahun ini, pasar minyak global terbilang tangguh meski diterpa dua tekanan utama: kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan peningkatan kuota produksi oleh aliansi OPEC+. Namun ketahanan ini sedang diuji. Produksi Arab Saudi mulai melonjak di saat permintaan global justru menunjukkan gejala pelemahan.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Senin, 14 Juli 2025, harga minyak acuan kini masih bertengger di kisaran USD70 per barel, memang turun dari puncak tahun ini di level USD82 pada pertengahan Januari, tapi tetap di atas posisi terendah USD62 yang terjadi pada Mei, pasca pengumuman Trump soal “Hari Pembebasan Tarif” yang membingungkan arah kebijakan dan mengancam aktivitas ekonomi serta konsumsi energi global.

Pasar sempat terjaga karena kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Trump menunda tarif balasan (reciprocal tariffs) dan malah membuka pembicaraan positif dengan Beijing. Hal ini cukup meredam ketakutan pasar atas eskalasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.

Meski pertumbuhan ekonomi global mulai melambat, penurunannya tidak sedalam yang diasumsikan saat harga minyak jatuh tajam. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2025 hanya akan turun ke 2,3 persen, sekitar setengah poin di bawah ekspektasi awal tahun.

Peningkatan pasokan dari OPEC+ pun awalnya lebih banyak wacana ketimbang realisasi. Aliansi produsen minyak itu memang memutuskan untuk mengembalikan pasokan sebesar 2,2 juta barel per hari dan menaikkan kuota dasar produksi Uni Emirat Arab sebesar 300 ribu barel per hari, tetapi banyak anggota yang sejak awal memang sudah memproduksi di atas batas kuota.

Produksi Saudi Melejit, Tapi Banyak yang “Dibakar”

Kenaikan signifikan baru terjadi pada Juni, ketika produksi Arab Saudi naik 700 ribu barel per hari menjadi 9,8 juta bph. Tapi lonjakan itu sebagian besar digunakan untuk konsumsi dalam negeri—baik oleh kilang maupun pembangkit listrik yang berbasis minyak—untuk menghadapi lonjakan permintaan energi selama musim panas.

Menurut konsultan energi Wood Mackenzie, "crude burn" atau pembakaran minyak mentah Arab Saudi diperkirakan mencapai 695 ribu bph pada Juli dan tetap tinggi pada Agustus. Artinya, ekspor tidak langsung ikut melonjak.

Namun babak baru mulai terbentuk. Ketegangan perdagangan kembali mencuat setelah Trump mengumumkan tarif baru untuk berbagai negara, termasuk sekutu seperti Jepang dan Korea Selatan. Trump juga mengancam memberlakukan tarif 50 persen atas tembaga dan 35 persen untuk sejumlah produk Kanada.

Sementara itu, permintaan minyak mulai melandai. IEA mencatat pertumbuhan konsumsi global yang semula naik 1,1 juta bph pada kuartal pertama 2025, diproyeksi hanya akan tumbuh separuhnya pada kuartal kedua.

Lebih mengkhawatirkan lagi, permintaan dari negara-negara yang sangat bergantung pada perdagangan dengan AS mulai menurun:

China turun 160 ribu bph
Jepang turun 80 ribu bph
Korea Selatan turun 70 ribu bph
Meksiko turun 40 ribu bph
AS sendiri turun 60 ribu bph

Jika perang dagang benar-benar terjadi, tren penurunan ini bisa semakin tajam.

Saat konsumsi global melemah, Saudi justru bersiap melepas lebih banyak minyak ke pasar dunia. Setelah ekspor naik dari 5,9 juta bph pada April menjadi 6,4 juta bph pada Juni, pengiriman pada Juli diperkirakan melonjak ke 7,5 juta bph, tertinggi sejak April 2023.

Riyadh tampaknya ingin merebut kembali pangsa pasar global yang merosot ke 11 persen tahun lalu, dari rata-rata 13 persen selama tiga dekade terakhir. Ekspor ke China diperkirakan menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Gabungan peningkatan pasokan dari OPEC+ dan produsen di luar aliansi diperkirakan akan menambah suplai global sebesar 2,1 juta bph menjadi 105,1 juta bph sepanjang 2025. Sementara permintaan global hanya diprediksi mencapai 103,7 juta bph. Dengan demikian, pasar akan mengalami surplus 1,4 juta barel per hari—yang berarti tekanan harga akan semakin kuat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait